Wednesday, March 14, 2007

Kunci ASI Eksklusif

Alhamdulillah saya sukses menyusui Darris dan Fidellynne tanpa harus ditambah susu formula. Pada awalnya saya berkomitmen akan menyusui anak-anak saya sampai usia 2 tahun. Tapi karena saat Darris setahun saya sudah hamil lagi, akhirnya Darris dapat ASI hanya sampai usia 19-20 bulan. Ya betul, sampai saya hamil 8 bulan saya masih menyusui Darris.

Kalau mengikuti istilah ASI eksklusif, untuk Darris mungkin kurang tepat, karena ketika usianya kurang dari 6 bulan sudah mulai saya beri MP-ASI (bubur susu). Bukan karena ASI kurang, tapi karena 'termakan' eyang putrinya yang selalu ribut setiap kali Darris nangis dibilang kurang kenyang. Lama-lama (karena kurang pinter juga waktu itu) saya terpengaruh juga.

Untuk Fidellynne, full ASI eksklusif. Tiap kali eyang putrinya tanya "Ngga dikasih makan?" saya jawab "Nanti...kalau sudah 6 bulan". Ketika Fidellynne 5 bulan, ditanya pertanyaan yang sama, saya jawab "Iya bu, bulan depan..".

Tapi untuk susu formula/susu tambahan, saya sudah komitmen baru akan diberi bila usia diatas 1 tahun.

-> Oya, kalau sudah diatas 1 tahun, susu tambahan tidak harus susu formula lho. Bahkan susu UHT (susu Ultra misalnya) lebih baik. Karena yang dibutuhkan dari susu hanya kalsium dan lemak. Hati-hati dengan zat-zat tambahan yang lain seperti DHA, AA, dll karena zat-zat tersebut tidak sealami yang terdapat di ASI sehingga ada kemungkinan susah dicerna. Apalagi untuk bayi dibawah 1 tahun!

Darris dapat susu tambahan secara rutin kira-kira mulai umur 18 bulan. Alhamdulillah cocoknya sama susu Bendera 123 yang ga terlalu berat di kantong. Pernah saya coba belikan Excella Gold, eh malah diare. Terpaksa deh susu mahal itu saya yang habiskan.. meski rasanya ugghh..

Back to title...
Kunci ASI eksklusif untuk saya ada 7 (nanti kalau ada tambahan pasti saya update!), yaitu:
  1. Niat
  2. Sering menyusui
  3. Banyak minum
  4. Cukup gizi
  5. Dukungan dari suami.
  6. Dukungan dari lingkungan dalam
  7. Dukungan dari lingkungan luar
Penjelasan dari masing-masing poin adalah seperti berikut ini...

1. Niat
Saya berkomitmen menyusui sendiri bayi saya karena saya yakin bahwa ASI adalah yang terbaik bagi mereka. Saya punya keyakinan bahwa saya mampu. Karena saya adalah seorang Ibu yang sudah menggendong mereka selama sembilan bulan dengan hormon yang gak karuan, maka hormon yang sama HARUS membuat saya BISA menyusui mereka pula.

Selain itu juga karena saya males kalau harus cuci-steril botol susu dan harus bangun malam untuk bikin susu. Bikin susu, apalagi untuk bayi baru yang harus pakai air panas segala, syaratnya kita harus bener-bener bangun dan sadar. Kalau engga siap-siap deh yang namanya kena air panas, susu bubuk tumpah berceceran kena senggol, dan kecelakaan kecil lain. Kecelakaan kecil memang, tapi cukup bikin repot kita yang udah kerepotan. Mana kalau kita sudah bangun, kadang susah tidur lagi.

Lain kalau kita kasih ASI, kita cukup sekadar sadar – kadang tanpa harus melek – untuk memastikan payudara masuk ke mulut bayi terus bisa tidur lagi deh. Kita sudah cukup kurang tidur ketika bayi agak rewel, jadi jangan ditambah lagi dengan kerepotan bikin susu malam-malam bareng orang pergi dugem. Kalau ada waktu yang bisa dipakai tidur, mending dimanfaatkan sebaik-baiknya, deh.

Jangan dengarkan kata orang-orang yang meragukan kita. Justru keraguan orang tua (ibu kita), mertua, atau bahkan suami, menjadikan kita terbebani, kepikiran, meragukan diri sendiri, stress, dan malah bikin ASI gak lancar atau justru gak keluar.

Kadang bayi nangis habis kita susui dibilang ASI kita kurang, makanya bayi masih lapar. Jadi harus ditambah susu formula. Padahal menurut pengalaman saya, kalau nangis habis disusui itu biasanya disebabkan bayi pengen sendawa tapi engga bisa sendawa sendiri. Makanya dia teriak minta dibantu sendawa. Habis disendawakan biasanya langsung tidur kekenyangan.

2. Sering menyusui
Seberapa sering? Setiap waktu, susui bayi kita. Baru berhenti kalau dia sudah muntah.. hehehe..kalau perlu bayi selalu nyantol sama kita (kayak gak ada kerjaan lain ya?). Tapi betul lho. Karena makin sering kosong, makin sering pula terisi. Oya, sebetulnya gak ada tuh yang namanya ASI habis. Yang ada tinggal sedikit. Karena engga bakal pernah kosong sama sekali. Saya pernah coba berikan yang ‘kosong’ ternyata bayi tetap minum, bahkan gak lama kemudian ‘ngisi’ lagi.

3. Banyak minum
Solusi cepat untuk menambah pasokan ASI adalah minum air banyak-banyak. Lebih bagus lagi kalau bisa minum susu banyak-banyak dan makan banyak-banyak.

4. Cukup gizi
Makan banyak memang perlu untuk menambah pasokan ASI. Tapi ternyata kalau yang banyak dimakan kurang bergizi juga engga seberapa ada efeknya sama jumlah ASI. Saya pernah heran sudah banyak makan tapi kok ASI ga sebanyak biasanya. Ternyata setelah diingat-ingat hari itu saya lebih banyak makan junk food dan bakso (maklum, hari jalan-jalan dan makan diluar sih..).

Sebaliknya, ketika saya makan porsi biasa tapi banyakin sayur dan buah, ASI jadi banyak keluar. Daun katuk buat saya sama efeknya dengan sayur-sayur yang lain. Yang penting sayuran hijau. Kacang-kacangan juga bagus. Kalau lagi butuh suplemen ASI, coba minum kacang hijau atau makan bubur kacang hijau deh.

5. Dukungan dari suami.
Minimal suami harus menghargai keinginan kita untuk memberikan ASI. Jangan malah ribut nanti takut bentuk badan jadi kurang bagus..bla..bla..Apalagi sampai nakut-nakutin bakalan kawin lagi. Syukur-syukur bisa ikut bangun malam nemenin nyusuin. Apalagi sambil mijatin. Menyusui sambil dipijat suami bikin ASI langsung deras lho. Ga percaya? Coba aja!

Kita kasih ASI justru membantu mengurangi belanja bulanan lho. Menyusui juga membuat kita kurus lebih cepat. Karena lemak kita (dan makanan kita yang bakal jadi lemak tambahan!) justru diolah jadi ASI. Ditambah kalau kita ngurus bayi kecil kita sendirian, dijamin berat badan turun lebih cepat. Bobot saya ketika Fidellynne umur 4 bulan justru lebih kecil (52 kg) daripada bobot sebelum hamil Darris (53-54 kg)!

6. Dukungan dari lingkungan dalam
Bayi baru = situasi baru; buat kita, apalagi buat bayi. Kadang ini bikin kita stres karena mahluk yang satu ini suka engga jelas maunya apa. Lapar nangis, bosen nangis, ngantuk nangis. Semua ditangisin deh pokoknya. Padahal buat kita kalo sampe nangis berarti udah parah banget, sementara buat bayi cuma pengen kasih tunjuk sama kita kalo ada sesuatu yang agak kurang pas dikit.

Bagi beberapa nenek baru, bayi baru juga tantangan baru. Hmm, masih ingat ga ya ilmu-ilmu jadul? Padahal cucu barunya ini anak milenium. Belum tentu tangisannya bisa diterjemahin sama kamus terbitan pertengahan abad lalu (kayak udah lamaaaa banget ya? Hehehe... padahal emang iya...). Nah, kadang mereka salah terjemahin cucunya yang lagi kembung dibilang kurang makan. Terus si ibu baru dibilang ASInya kurang. Jadi tambah stres deh. Udah stres denger tangisan bayi, makin stres mikirin ASI yang dibilang kurang. Akhirnya jadi lingkaran setan:

Bayi minum -> bayi nangis (biasanya habis minum pengen sendawa) -> dibilang masih lapar -> engga disendawain, malah dipaksa minum lagi -> tambah keras tangisannya -> ibu baru stres -> ASI malah ga lancar.

Jadi gimana dong taunya bayi sudah kenyang apa belum? Ya tanya bayinya dong. Bayi ga harus minum sejam untuk kenyang. Kadang lima menit sudah cukup untuk bikin dia tidur tenang lagi. Tapi biasanya, makin lama jarak antar minum, makin lama/banyak minumnya. Juga kalo dia kelihatan kepanasan, keringetan, biasanya pengen minum. Sama kayak kita.

Ibu baru, yang tau maunya bayi baru biasanya ya ibunya, yang sudah konek sembilan bulan sebelumnya. Nenek baru cukup diperhatikan saran-saran teknisnya aja (cara memandikan, cara ngerawat pusar, dsb). Tapi masalah komunikasi, coba deh pake telepati sama si adek. Biasanya ibu baru lebih bener daripada nenek baru.

Untuk bayi yang bener-bener lagi susah diredakan tangisannya, coba baca buku “Bayi paling bahagia di dunia” karangan Harvey Karp, M.D. Bukan pesan sponsor lho, cuma bagi-bagi pengalaman.

7. Dukungan dari lingkungan luar
Ini syarat yang paling sulit menurut saya. Karena kita agak sulit mengubah kantor menjadi ASI-friendly misalnya, mengubah supermarket dan mall (meski sejumlah mall baru sekarang sudah menyediakan tempat menyusui dan ganti popok – nursery/baby changing room. Ngomong-ngomong ternyata susah ya ganti popok kotor di kamar mandi mall. Ga ada tempat buat tempat berbaring balita. Solusinya paling ya popok model pull-up). Sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Makanya kita kampanye ASI. Salah satunya dengan memforward tulisan ini...
(Yeeee...! Pesan sponsor nih...!).

Sunday, October 1, 2006

Kelahiran Fidellynne

Dari USG pada usia kehamilan 31 minggu, Fidellynne sudah sungsang. Saya disarankan untuk melakukan terapi sujud. Terapi ini sukses untuk Darris (29 minggu sungsang, 33 minggu sudah normal). Tapi entah kenapa buat yang kedua ini kok ga ada pengaruhnya sama sekali. USG juga tidak mengisyaratkan ada sesuatu. Karena ini sudah anak kedua dan yang pertama lahir normal dengan berat 4 kg, maka dokternya tidak langsung memvonis harus lahir secara caesar. Tinggal tunggu hari H-nya saja.

Sejak dua minggu sebelum tanggal perkiraan kelahiran, saya sudah mulai kontraksi. Tapi kontraksi tidak pernah stabil. Lewat sehari dari tanggal perkiraan, dokter sudah mulai ngomporin untuk operasi saja. Tapi saya keukeuh untuk nunggu seminggu lagi. Bahkan dalam minggu itu saya sempat cari second opinion supaya tidak perlu operasi. Lewat 8 hari dari tanggal perkiraan, saya kontraksi lagi. Saya periksakan ke RS ternyata sama sekali belum ada pembukaan dan disarankan untuk rekam jantung bayi (yang bunyinya kayak barisan kuda itu... hehehe). Dari hasilnya kelihatan kalau detak jantung bayi sudah kurang bagus. Tiap kontraksi, detak jantungnya jadi sangat cepat dan kadang malah jadi drop.

Jadi dengan usia kehamilan telat 8 hari dari tanggal yang seharusnya, posisi masih juga sungsang, apalagi ditambah kondisinya yang seperti itu, saya akhirnya pasrah untuk operasi saja. Kasihan sama Fidellynne.

Fidellynne lahir tanggal 30 September 2006, jam 18.15. Karena masih dalam bulan Ramadhan, menurut saya dokternya buka puasanya ya operasi itu... hehehe...Dokter anestesinya malah dengan kaconya nyeletuk “Bu, jangan dikasih nama gerwani lhooo” secara Fidellynne lahir tanggal PKI...hweheheh...

Ketika operasi baru ketahuan kalau Fidellynne ternyata terlilit ari-ari sampai dua lilitan. (Eh, katanya kalau lahirnya terlilit ari-ari, gedenya cakep ya? Alhamdulillah kalau bener...). Lilitannya cukup rapat karena dokter harus melonggarkan lilitan dahulu sebelum bisa menarik dia keluar. Pantes katanya kalau operasi cuma 15 menit bayi sudah kedengaran tangisnya, sementara Fidellynne lebih lama. Mungkin saking rapetnya, di USG pun jadi ga keliatan karena ari-ari akan tampak menyatu dengan leher. Wah, berarti waktu direkam jantung itu tiap kontraksi dia mungkin sudah agak terhambat aliran darahnya. Makanya detak jantungnya jadi kacau.

Saya hanya bisa memanjatkan rasa syukur pada Allah SWT karena Fidellynne dikaruniai kekuatan dan kesehatan untuk bisa bertahan dalam kondisi yang seperti itu. Dalam hati saya meminta maaf padanya karena telah menunda kelahirannya , dan ‘memaksanya’ bertahan sedemikian lama.

Saya tetap sadar sampai Fidellynne ditunjukkan pada saya. Setelah itu rupanya diberi obat bius tambahan sehingga saya jadi setengah sadar. Telinga ini rasanya masih bisa mendengar, tapi apa yang saya dengar sudah ga diproses berupa informasi di otak. Mata juga masih terbuka, saya ingat usai operasi saya dipindah dari meja operasi ke tempat tidur dorong. Saya juga ingat lampu-lampu di lorong yang saya lewati untuk pindah ke ruang pemulihan. Tapi pembicaraan orang-orang disekitar saya sama sekali ga ada yang make sense. Sampai di ruang pemulihan saya menggigil keras kedinginan. Rupanya itu salah satu bentuk efek obat bius.

Efek obat bius juga bermacam-macam terhadap setiap orang. Pasca operasi caesar salah satu teman saya tetap sadar, sementara yang lain pingsan dengan suksesnya. Teman satu ruangan saya muntah-muntah (saya juga sempat ditanya apa merasa mual sama suster jaga), sedangkan saya sama sekali ga mual meski memang mulut terasa agak pahit.

Saya baru betul-betul sadar sekitar jam 19.30. Itu juga masih mengigil. Rasa dingin baru hilang setengah jam kemudian. Sepanjang malam itu saya ga bisa tidur. Pikiran ini sama sekali gak bisa shut-down. Yaahh, palingga kan get a rest gitu loh. Saya merasa harus cepat pulih supaya sesegera mungkin bisa menyusui. Sepanjang malam saya gunakan untuk melatih badan. Mulai dari ujung-ujung jari kaki, miring kiri-kanan, sampai mengangkat pantat. Saat itulah bener-bener kerasa bedanya melahirkan normal dan caesar.

Dua jam setelah melahirkan normal, saya sudah bangun dan pindah ke kamar inap. Ya jelas gak jalan sendiri laaahh, naek kursi roda. Didorongin lagi, tapi kan sudah bisa bangun. Sementara dua jam setelah melahirkan caesar? Bah, bius aja belum sepenuhnya ilang. Paling banter cuman bisa miring kiri-kanan 45 derajat.

Saya baru dianter ke ruang inap besok siangnya jam 11.00. Itu juga saban jam saya nanyain, “kapan ke kamar” sampe bosen perawatnya trus dianterin deh...hehehe. Abis gak bisa pergi sendiri sih. Dianternya aja masi pake bed-dorong gitu. Sampe kamar, langsung order suster untuk sesegera mungkin kirim my baby ke kamar. Begitu sampe, langsung saya tancepin dah ke botol saya.

Bayi Fidellynne juga nginap terus di kamar saya 24 jam. Eh, gak ding...waktu mandi diambil...Memang di RS Islam Jemursari ini kita bisa rooming-in. Sekamar dengan bayi. Belajar ngurus bayi sendiri. Tapi jangan khawatir, suster-susternya selalu siap membantu. Kalo kita kecapekan misalnya, dan bayi rewel terus (biasanya rewel karena pola tidurnya belum bisa adaptasi. rewel buat kita, tapi buat dia cuman belon pengen bobo ajah :D), suster bisa dipanggil untuk angkut bayi ke ruang bayi supaya kita bisa tidur dengan tenang. Tapi klo saya sih justru bisa tidur tenang kalo bayi disamping terus.

Sejak saya lepas dari recovery room, Fidellynne dah stop botol dan full ASI. Baru belakangan saya tahu kalo dia dapet susu formula. Padahal saya sudah sign ASI Eksklusif. Tapi mungkin berhubung saya dioperasi, jadi susternya nanya ulang sama si Ayah, dan ndilalah instead of bilang dikasih aer gula aja *halahh, bahasanya kok campur aduk toh*, Ayah malah tunjuk satu merek susu formula dengan sistem random...Hooohhh...piye tho Yah??

Belajar dari pengalaman saya, Moms & Moms-to-be, ternyata yang harus pinter dan gaul ASI gak cuman kita. Tapi para penanam saham ini juga kudu ditraining. Bwehh, padahal susah amit nrainingnya. Kalah ama koran, ama komputer (entah kerjaan entah game), ama ngorok, ama tivi, ama mancing, ama oprek motor or mobil, ama....wuahh, sebut sendiri deh, yang punya suwami kan situh! Hweheheh....

Tuesday, December 14, 2004

Kelahiran Darris

Sebetulnya cerita ini satu paket sama arsip hamil Darris di blog yang satunya. Mulai post ini sampai post ini.

Tapi biar bacanya gak kudu lari-lari kesana kemari *sok teu, sapa juga yang sambil lari-lari, orang kita duduk manis sambil nyamil gini kok...:D*, maka saya posting ulang disini. Toh masih berhubungan kan.

Bakalan puannjaaannggg loh...All 40 hours of labour....
Oiyah, gaya bahasanya akan beda dikit, karena awalnya saya nulis ini sebagai

Kite mulai yuuuukkkk...

Tanggal 11 Desember...
Hari pertama di RS Pura

Paginya Mommy udah engga tahan, terus pergi ke Pura lagi. Sampai di Pura jam 05.00, Mommy langsung diperiksa, terus dibilang bukaan 2 dan disuruh tinggal. Kebetulan travel Ayah juga sudah masuk Surabaya, jadi Mommy suruh Ayah turun di Pura aja. Jam 08.00 dokternya datang ngecek Mommy. Kata dokter bukaannya masih tetep 2, dan ad kecil masih kurang turun. Dokternya kelihatan bingung. Mommy bilang biar Mommy pake jalan-jalan deh, supaya ad kecil cepat turun. Dokternya cuma manggut-manggut. Tapi Mommy senang karena waktu untuk ketemu ad kecil makin dekat. Karena hati Mommy senang, makanan RS Mommy makan semua biar kuat kalo harus ngeden bantu ad kecil keluar. Habis itu Ayah pulang ke Tenggilis soalnya harus taruh tas sama ambil rebusan rumput fatimah buat Bantu ad kecil cepat keluar. Eh, pas ayah belum balik, Uti sama Kakung datang. Mommy kan jadi ngga enak. Kelihatannya ayah engga nungguin Mommy gitu.

Sorenya jam 2an, Mommy diperiksa lagi. Katanya bukaan sudah 3. Wahh, tambah dekat lagi deh ketemu ad kecil! Sayangnya habis itu Mommy dikasih tau kabar buruk.. Ayah ditelepon dokternya. Dokter bilang Mommy harus operasi biar ad kecil keluar. Kata dokter jalannya bukaan kelamaan dan kepala ad kecil masih jauh dari pintu lahir. Dokternya engga berani kasih obat induksi karena kepala ad kecil yang kejauhan itu. Konyolnya lagi kata dokter Ayah harus segera putuskan dalam waktu 15 menit sebelum tim dokter yang barusan melaksanakan operasi jam 13.30 pulang. Ayah jadi bingung & khawatir. Kalo Mommy jadi bingung, sebal, jengkel, dan kecewa sama dokternya. Mommy ngga merasa kenapa-kenapa kok. Kok rasanya buru-buru sekali masih bukaan 3 sudah harus operasi. Apalagi semalam waktu control dokter bilangnya ad kecil udah turun, kok sekarang bilangnya masih jauh. Yang bener yang mana dong? Mommy memang pengen segera ketemu ad kecil. Pengen sekali.. Tapi bukan gini caranya. Mommy bilang Ayah supaya minta tunda sampai besok ke dokternya. Dokternya setuju. Tapi suasananya sudah jadi aneh. Ayah dan Mommy jadi kurang percaya sama dokter dan RSnya.

Setelah itu Ayah dan Mommy telpon kesana kemari minta pendapat gimana baiknya. Ibu Bapak dan Uti Kakung ngga setuju kalo harus operasi. Bahkan Kakung sampai bela-belain balik lagi ke RS soalnya pengen lihat kondisi Mommy. Dikiranya Mommy sudah lemas, kecapekan, atau sakit makanya dokternya suruh Mommy operasi. Pas lihat Mommy Kakung jadi heran, orang Mommy sehat-sehat aja kok. Kata Kakung, ini sih ad kecilnya yang belum pengen ketemu Mommy. Betul gitu ya? 

Ibu juga tanya sama temannya yang juga dokter kandungan. Katanya juga belum perlu operasi. Selama kondisi Mommy masih baik-baik aja, mendingan ad kecil ditunggu aja. Bapak juga telpon ayah teman kantornya yang juga dokter kandungan. Sayangnya dokter yang ini kelihatannya agak sungkan sama dokternya Mommy makanya jawabannya setengah-setengah. Lagian dia ngga lihat sendiri kondisi Mommy gimana. Ayah juga telpon bude Umul. Bude Umul nawarin Ayah untuk mindahin Mommy ke rumah sakit lain. Tapi Mommy masih mau nunggu ad kecil di RS itu. Hari itu Mommy jalan-jalan kesana kemari sampai bosan.

Tanggal 12 Desember...
The big day di RSI 2

Karena ad kecil masih belum mau keluar, Mommy yang selama itu di kamar bersalin disuruh masuk kamar inap. Malamnya punggung Mommy sakit sekali, Mommy sampai menggigil dan ga bisa bobo. Mana AC kamarnya engga ada remotenya lagi, gimana mo ngecilin coba. Ayah sampai khawatir lihat Mommy menggigil gitu. Terus jam 2an Ayah antar Mommy ke ruang bersalin lagi biar diperiksa lagi. Setelah diperiksa, suster bilang kalo sudah bukaan 5. Mommy juga tanya apa ad kecil udah lebih turun. Kata susternya udah lebih bagus daripada sebelumnya. Mommy jadi lega. Kalo gini kan berarti ada kemajuan. Kalo ada kemajuan kan Mommy gak perlu sampai operasi.

Paginya jam 9an, Mommy diperiksa lagi. Masih tetep bukaan 5. Susternya meriksanya engga enak deh, kasar dan kayak engga serius. Si suster terus lapor ke dokternya lewat telpon. Mommy bisa dengar apa yang diomongin. Susternya kayaknya juga ngojok-ngojokin supaya Mommy dioperasi aja. Ayah disuruh ngomong sama dokter lagi. Ayah diancam sama dokternya, kalo engga mau operasi, ad kecil bisa mati di dalam perut. Mommy jadi tambah mangkel dan stress. Memangnya dokter itu apanya Allah. Yang menentukan hidup dan matinya manusia kan cuma Allah.

Terus Mommy sama Ayah minta waktu buat rundingan lagi. Pas rundingan itu Mommy cerita sama ayah kalo susternya meriksanya engga enak. Mommy sama Ayah juga heran, sakitnya tambah parah tapi kok bukaannya engga nambah. Karena ngerasa si suster meriksa engga niat, Ayah akhirnya nantangin dokter supaya meriksa sendiri. Dokter nyanggupin datang jam 13.00 sekalian operasi kalo memang ad kecil belum lahir. Habis itu Mommy telpon Bapak sama Ibu supaya dateng ketemu dokternya. Siapa tau kalo ngomong sama orang yang sama tuanya jadi lebih jelas kenapa kok harus operasi.

Mommy jadi kepikiran. Mommy stress. Mommy jadi malas makan pagi dan siang hari itu, cuma segelas susu yang Mommy usahain tetap masuk. Biar ada sedikit tenaga buat bantu ad kecil keluar nanti. Kurang sih, tapi nafsu makan Mommy bener-bener drop. Kakung jenguk Mommy lagi. Kasian Kakung ikut bingung lihat ad kecil masih malas keluar. Mommy sih sabar aja, cuma ya itu dokternya yang bikin Mommy stress. Tau-tau pas Mommy lagi istirahat, susternya datang, bilang kalo dokternya udah datang. Pas itu Mommy lagi kontraksi, jadi engga bisa gerak. Tapi susternya maksa-maksa supaya Mommy cepetan. Mommy pengen pipis dulu aja engga boleh, katanya pipisnya nanti di ruang bersalin. Ya udah Mommy ngalah. Sampai di ruang bersalin Mommy ternyata engga bisa pipis dulu soalnya langsung diperiksa (susternya bohong, lihat aja nanti balasannya dari Allah. Bisa-bisa dia ngalamin hal yang sama, atau lebih parah..). Betulan, pas diperiksa, dokternya kesulitan soalnya kandung kemih Mommy penuh. Mommy langsung dikateter, dikasih selang supaya pipisnya cepat keluar. Sakit deh rasanya, soalnya dokternya kesusu-susu dan kasar. Kalo Mommy lihat sepertinya si dokter ada acara soalnya pake baju batik, tapi engga tau itu mau berangkat atau udah pulang. Tapi kan tetep aja kalo jadi dokter engga boleh bersikap begitu. Pasien harus nomor satu. Kalo ada kesibukan lain ya nanti dulu, atau panggil aja dokter lain buat mewakili. Yang namanya pasien kan pasti badannya atau fisiknya sakit. Jadi pikirannya atau batinnya jangan tambah disakiti. Lihat aja balasannya dari Allah juga.

Allah itu Maha Adil, ad. Kalau kita berbuat pasti ada balasannya, baik itu perbuatan baik, atau perbuatan buruk. Memang kadang kita engga sadar udah berbuat jelek sama orang lain. Nah, pas kita ngalami hal yang buruk, kita harus sadar bahwa mungkin itu balasan dari apa yan gkita lakukan terhadap orang lain. Mommy juga sadar bahwa mungkin Mommy mengalami ini sebagai peringatan dari Allah atas apa yang pernah Mommy lakukan sama orang lain, baik Mommy sadari maupun engga.

Setelah diperiksa dokter, dokternya bilang masih bukaan 5. Dokternya suruh operasi. Mommy tanya, kenapa engga bisa ditunggu lagi sih. Kata dokter ad kecil udah lewat bulan, padahal kan masih dalam minggu ke-40. Dimana-mana Mommy baca kalo hamil itu sampai 40 minggu masih dalam batas normal. Baru kalo lewat minggu ke 42, perlu dilakukan tindakan. Itu juga dikasih obat induksi dulu, engga langsung main operasi aja. Dokter juga bilang kalo menurut teori, kalo persalinan udah mulai (udah mulai bukaan) maka harus diakhiri dalam 24 jam. Mommy baca dimana-mana juga engga pernah ada teori kayak gitu. Udah gitu pas Mommy tanya sebetulnya penyebabnya apa kok sampai gini, dokternya jawabnya engga jelas. Katanya sebabnya bisa macam-macam, tali pusat kependekan (lho, kan placenta ada dibawah, ga mungkin dong kependekan), kebelit tali pusat, terus apalagi gitu, Mommy lupa. Jadi dokter engga punya alasan yang jelas gitu. Makanya Mommy tetep keukeuh ga mau operasi. Tapi tetep ada rasa khawatir jangan-jangan bener kata si dokter. Makanya Mommy selalu bicara sama ad kecil supaya kuat, supaya tetap bertahan. Ad kecil ingat kan? Mommy yakin ad kecil dengar…

Karena Mommy tetep gak mau operasi, dokter buatin surat pernyataan. Isinya si dokter sama RS Pura engga mau tanggungjawab kalo sampai Mommy dan atau ad kecil sampai kenapa-kenapa, soalnya engga mau dioperasi. Habis itu dokternya langsung pergi. Bapak sama Ibu belum datang tuh waktu itu. Kan belum jam 13.00. Pas Bapak sama Ibu datang, dokternya udah pergi. Ayah, Mommy, sama Bapak Ibu rundingan lagi. Bapak sepertinya lebih percaya sama dokternya, soalnya si dokter yang ditelpon itu ngomongnya gitu juga. Sementara Ibu cenderung engga setuju, soalnya temennya bilang selama ketuban belum pecah, masih bisa ditunggu. Kadang memang bisa berhari-hari katanya. Tapi Bapak sama Ibu tetep nyerahin keputusan sama Ayah dan Mommy. Sementara Ayah sendiri nyerahin ke Mommy karena Mommylah yang paling bisa ngerasain.

Mommy memutuskan untuk keluar dari RS itu. Buat apa tetep disitu kalo mereka udah lepas tanggungjawab sama kita. Tapi sebelum itu, Mommy harus pastikan dapat RS dan dokter lain. Sudah bukaan 5 masa mau pulang. Kalo sampai lahir di rumah kan lebih ribet lagi. Ya kan? Mommy coba telpon Tante Ervin yang instruktur senam, tanya apa bisa Mommy masuk RSI 2 dadakan. Juga tanya referensi dokter yang mau terima Mommy dengan kondisi yang setengah jalan. Tante Ervin kasih saran Mommy untuk telpon dokternya dia dulu, namanya dokter Indy. Mommy telpon dokternya dan jelasin kondisi Mommy. Alhamdulillah dokternya engga ribet. Dia malah bilang “ayo sekarang saya periksa di RSI”. Lho, Mommy jadi bingung soalnya kan masih di RS Pura. Setelah ada keputusan, Ayah cepat-cepat ngurus keluar dari RS itu. Ayah juga sempat sholat istikharah biar dikasih jalan dan dikasih ketetapan hati sama Allah.

Jam 14 lebih Mommy pergi dari RS Pura. Mommy masih bisa jalan keluar dari RS. Mommy juga heran kok bisa udah bukaan 5 masih bisa jalan. Mungkin karena Mommy udah kadung jengkel disana, jadi pengen cepet-cepet pergi. Jam 14.30an sampai di RSI 2. Mommy masih sempat jalan kira-kira 15 meter, terus kontraksi datang lagi. Kali ini Mommy gak kuat jalan. Untung ada pak satpam yang udah mau pulang sebenernya, masih sempat ambilin kursi roda buat Mommy dan antar Mommy sampai ke depan pintu ruang bersalin. Semoga Allah membalas perbuatan baiknya. Semoga dimudahkan hidupnya sebagaimana dia sudah memudahkan kita waktu itu ya ad.

Masuk ke ruang bersalin, entah kenapa hati Mommy berubah jadi tenang. Apalagi dibantu suster-susternya yang baik-baik. Baju Mommy langsung diganti dengan baju RS, terus Mommy diperiksa. Ternyata bukaan sudah 6-7 lho. Wah, kok bisa ya? Padahal tadi di RS Pura kok 5 melulu. Mommy jadi heran. Habis itu Mommy dikasih alat yang bisa rekam jantung ad kecil. Wah, jantung ad kuat deh. Bunyinya keras geruduk-geruduk kayak suara tapak kaki kuda lari. Alhamdulillah hasil rekam jantungnya bagus dan stabil. Itu baru anak Ayah, ya nggak?

Terus ada yang lapor kalo Mommy belum makan pagi dan siang. Mommy lupa siapa yang bilang, Ibu, atau Mommy sendiri yang bilang sama susternya ya? Yah pokoknya gitu deh. Jadi terus susternya cariin makan buat Mommy. Tapi karena jam makan siang dah lewat, jadi Mommy cuma dapet teh manis. Lumayan... Tapi itu juga agak susah masuknya, soalnya waktu itu kontraksinya dah mulai kencang banget. Jadi mo ngapa-ngapain dah agak susah.

Kurang dari sejam kemudian dokternya datang. Wah, dokternya engga tampang dokter..hihihi.. Tapi kita kan engga boleh lihat tampang doang. Ingat kan ad, ‘Don’t judge the book by its cover’. Dokternya ngecek semua. Termasuk luas panggul Mommy (kalau panggulnya luas atau lebar, berarti bayi lebih gampang keluarnya). Kata dokter panggul Mommy cukup luas kok, Insya Allah Mommy bisa melahirkan normal. Terus karena Mommy belum makan, dokternya nawarin untuk diinfus aja, biar ada makanan yang cepat masuk. Selain itu dokternya bilang kalau ad kecil bakalan diinduksi, biar bantu cepat keluar. Nah induksinya itu sekalian dilewatin infus. Mommy dah gak peduli, pokoknya iya aja. Jadi akhirnya Mommy dipasangin infus di tangan kiri. Waktu itu dokter juga bilang, ‘Wah, gimana ini kok engga makan seharian, nanti engga kuat ngedennya’. Hmm, Mommy jadi agak nggak terima. Dalam hati Mommy janji, pokoknya makan gak makan Mommy tetep harus bisa ngeden bantu ad kecil keluar.

Wah, seumur hidup Mommy belum pernah pake infus. Ternyata lumayan sakit juga. Apalagi tangannya engga boleh gerak-gerak. Eh, ad kecil, kalo ayah pernah beberapa kali lho diinfus. Soalnya ayah pernah sakit demam berdarah (harus nginap di RS 8 hari lho!), sama operasi usus buntu. Oya, Mommy sempat tanya sama suster dan dokter, kira-kira ad kecil besarnya seberapa? Suster yang namanya Wiwid ngukur perut Mommy, terus katanya kira-kira 3,3 kg lebih. Sementara dokter memperkirakan 3,5 kiloan. Hihihi.. ternyata meleset semua ya ad...

Kira-kira jam 17.00an, Dokternya tau-tau masuk lagi. Terus ketuban (itu lho, bola isi air yang selama ini melindungi ad kecil) dipecah untuk bantu ad kecil biar gampang keluarnya. Wah, airnya banyak sekali lho. Mommy sampai takut ad kecil kekurangan air di dalam sana. Mommy sempat tanya sama suster, gimana warna airnya (soalnya kalo kental dan keruh itu engga baik buat bayi, dan bayi harus bisa cepat-cepat lahir. Kan makannya lewat air itu, kalo airnya kotor, bayinya bisa sakit). Kata suster udah mulai hijau warnanya, tapi engga kental dan masih lumayan jernih. Wah, itu pasti karena ad kecil dah pup di dalam, jadi airnya agak kotor.

Waktu itu kontraksinya selain dah kencang juga udah beda, ad. Kalo sebelumnya bikin perut tegang dan punggung Mommy sakit, sekarang juga ditambah ada rasa pengen ngeden kayak mau pup gitu. Susternya sering ngingatin Mommy supaya nahan ngedennya. Soalnya belum waktunya dan bisa bikin Mommy kehabisan tenaga. Tapi susah nahannya, ad. Soalnya pas kontraksi rasa pengen ngedennya refleks, kayak ketarik perut gitu. Mommy jadi engga sabar. Sebentar-sebentar Mommy panggil susternya supaya periksa Mommy. Soalnya kalo bukaan dah penuh kan Mommy jadi boleh ngeden. Tapi rupanya Mommy masih harus sabar sebentar lagi. Soalnya meski bukaan sudah penuh, masih ada yang kurang sedikit kata susternya. Wah, Mommy berdoa terus tuh. Doa apa aja dibaca. Bukan Mommy aja sih, semua yang ada disitu juga bantu doa.

Rasanya lama banget sampai akhirnya ad kecil siap lahir. Tapi waktunya akhirnya datang juga. Susternya habis meriksa terus panggil dokternya. Pas dokternya datang, semua siap-siap, terus mulai deh prosesnya. Selama itu ayah ada di samping Mommy. Hmmm, ayah yang baik ya? Tapi sebetulnya ayah sendiri juga penasaran. Untung ayah engga pingsan lihat banyak darah.. hehehe.. Pokoknya ayah hebat deh!!

Karena udah boleh ngeden, Mommy jadi langsung ngeden tanpa perhitungan... hehehe.. Terang aja ad engga bisa keluar. Soalnya ngedennya kan mesti bareng pas kontraksinya juga lagi penuh. Mommy sempat coba dua kali. Gagal. Mommy tau ini engga boleh terlalu lama, soalnya engga cuma Mommy yang bakal kecapekan, tapi ad juga. Bisa bahaya kan. Karena itu untuk yang ketiga kalinya, Mommy janji engga bakal berhenti ngeden sampe ad kecil bisa keluar. Hmm, waktu itu ad dibantu didorong dari luar sama suster Wiwid. Wahh, betul-betul susah ternyata. Alhamdulillah berkat bantuan doa semua orang, ad kecil akhirnya muncul juga. Pas jam 20.09.

Nongol-nongol langsung nangis keras banget. Mommy jadi legaaaaaaaa sekali. Plong banget rasanya. Hilang deh semua kekhawatiran Mommy dua hari ini. Sejak disuruh operasi, Mommy khawatir banget sama ad. Pas kepala ad udah keluar, bagian badan lainnya langsung ditarik sama dokternya. Dengan cekatan tali pusat langsung dipotong, terus ad dibawa keluar untuk dibersihkan. Ayah juga disuruh ikut keluar, kan mesti ngadzanin ad kecil. Sementara itu Mommy dijahit, diganti baju sama dokter dan susternya. Semua dibersihkan. Terus Mommy tetep disitu sampai jam 22.30. Setelah itu baru pindah ke kamar tempat nginapnya.

Mommy cuma sempat lihat ad kecil sekilas aja. Mommy pikir ad bakal dibalikin dikasih lihat ke Mommy, ternyata ditunggu-tunggu engga datang-datang. Ternyata ad kecil langsung dimasukkan inkubator supaya engga kaget sama suhu luar yang beda sama di dalam perut. Mommy sempat tanya-tanya sama suster-suster yang sliwar-sliwer, berapa berat dan panjang ad kecil. Tapi rupanya pada belum tau. Sampai akhirnya ada yang nyeletuk kalo berat ad kecil 4 kg! Wah, Mommy betul-betul kaget lho! Bayi baru lahir kok udah 4 kg. Padahal tadi waktu keluar Mommy sempat lihat sekilas, ad engga gede-gede amat kok. Mommy pikir-pikir, alhamdulillah Mommy ga tau kalo ad kecil begitu besar. Coba kalo tau, pasti Mommy ga usah disuruh malah minta operasi aja. Habis takut siihh!

Setelah dibersihkan semua, Mommy ditinggal sendiri di ruang bersalin. Soalnya masih harus dikontrol, mungkin ada yg belum beres. Daripada nganggur, Mommy telpon Tante Heni. Mommy duluin telpon dia soalnya sorenya dia sempat sms, katanya perutnya juga mulai sakit. Sepertinya ad kecilnya tante juga mau segera lahir. Nah, Mommy kan khawatir kalo tante Heni di RS yang satunya itu, nanti engga enak seperti Mommy. Tapi tadi pas pindahan Mommy ga mau cerita, soalnya takut tante Heninya jadi khawatir. Makanya setelah semua beres, baru Mommy telpon dan ceritain semuanya. Wah, tante Heni kaget lho! (Besoknya pas sakit perutnya tambah parah, tante Heni nyusul deh sore-sore ke RSI 2. Tapi karena kepala ad kecilnya tante cukup besar, tante jadi harus operasi. Ad kecilnya yang dikasih nama M. Faris Jihadi lahir tanggal 14 Desember 2004 jam 03.30. Hmm, belum-belum ad kecil sudah punya teman satu nih!)

Sunday, April 11, 2004

For Moms and Moms to be

Ini adalah sebagian kecil dari pengalaman saya yang berhubungan dengan Kehamilan, Persalinan, dan Menyusui, dan Parenting. Referensi saya belum banyak memang. Tapi cukuplah untuk dibagi-bagi, daripada disimpen sendiri entar jadi jamur ... :D

Mohon maaf apabila beberapa posting atau artikel terkesan sangat subyektif (ini pengalaman saya geto loh...hehehe), atau bahkan negatif. Tulisan-tulisan saya juga bukan dimaksudkan untuk menjustifikasi *bener gak ya term yang dipake? susye amat bahasanya buk??...* salah atau benar. Karena setiap Mom pasti ingin yang terbaik bagi anak-anaknya, dan pasti memiliki alasan yang kuat dibalik setiap keputusan yang diambil untuk buah hati tercinta.
Semoga pengalaman yang baik dapat menjadi referensi, sementara pengalaman yang buruk dapat menjadi pelajaran/hikmah bagi kita semua.

Oiya, kenalin, saya Kirana. Ibu empat anak, Darris (cowo, 12 Desember 2004, persalinan normal, 4 kg/52cm), Dellynn (cewe, 30 September 2006, ops caesar, 3,6kg/50cm), Devan (cowo, 21 Maret 2009, ops sesar di 37.5mg, 4 kg/53cm), dan Dendra (cowo, 21 Maret 2012, ops sesar, 3,470 kg/50cm). Perlu diperhatikan bahwa saya bukan dokter, semua yang saya tulis hanya berdasarkan pengalaman saja, jangan dijadikan dasar medis.

Ingin kenal lebih jauh tentang kami?
Mampir dooongg ke sini...
Untuk kembali ke blog Being a Mommy ini klik link paling bawah di sebelah kanan blog tersebut.

Tulisan-tulisan yang lebih baru bisa dilihat disini.

Met blog-walking...!!!

Salam,
Kirana

Saturday, June 12, 1999

To My Treasures

Dear little piece of my soul
One day be the prince
In the world of decency
Rule the kingdom of honesty
From the palace of fervor
Keep integrity as your throne
Place dignity as your crown
Have humanity within your grip
Walk on the carpet of demeanor
Be the shelter to the lost
Be the entrusted one
Don’t let affliction
Sprays your ether
Smile should always adorn you

Sweet little piece of my heart
One day be the princess
In the world of benevolence
Rule the kingdom of generosity
From the palace of beauty
Keep benignity as your throne
Place probity as your crown
Have chastity within your grip
Walk on the carpet of vigor
Be the haven to the lost
Be the dependable one
Don’t let chagrin
Raise in your air
Beam be always embellish you

My gorgeous little treasures
Let Quran and Hadits
Light your paths
And take your hands
Through the gateway of truth

(June, 12 1999)