Showing posts with label ASI. Show all posts
Showing posts with label ASI. Show all posts

Friday, June 26, 2015

Kenapa ASI Untuk Anak Kedua Lebih Gampang: Part II

  • Udah tahu tanda bayi lapar dan kenyang.
New moms sering nggak sabar melepas isapan bayi yang kelihatannya sudah tertidur. Padahal selama bayi belum melepas sendiri, memaksa melepas malah bikin bayi melek lagi. Nggak nangis yang bikin full alert aja udah mendingan karena masih bisa ditidurin lagi. Kalau sampe bangun beneran, dadahbabay deh kerjaan yang mau disempetin beresin. 

Bayi sebetulnya jarang nggantel alias nggak ngelepas-lepas nyusu sampe berjam-jam sejak dia mulai merem. Nggak lama dari merem biasanya akan dilepas sendiri. Karena makin lama dia ngenyot, makin banyak ASI masuk ke perutnya, makin gak nyaman tidurnya. Jadi kalo emang bukan lagi growth spurt, biarin aja sampe dia lepas penyusuan sendiri. Kalau lepas sendiri biasanya tidurnya juga lebih lama.

gambar dari sini

Wednesday, June 24, 2015

Kenapa ASI Untuk Anak Kedua Lebih Gampang: Part I

Banyak calon mama dua anak (dan mama satu anak juga) yang nanya sama gue, apa ngASI anak kedua akan sesusah pas anak pertama yang (kebanyakan) full of struggling. Jawaban gue: Enggak. Justru yang gue lihat, banyak mama yang akhirnya bisa 'menebus' apa yang mereka fail to achieve (kalo pake ukuran achievement, sih, ya) pas anak pertama.

Misal, nih, ade gue sendiri. Anak pertama lumayan sukses ngASI sampe 23 bulan. Tapi nyusuin langsungnya pakai nipple shield. There's nothing wrong with nipple shield if it helps overcoming breastfeeding problems alias nyelesaiin masalah tanpa menambah masalah. Kebetulan di ade gue begitu. Problem dia adalah pain tolerance yang rendah, jadi nggak tahan sakitnya di awal-awal nyusuin itu, lho. Nipple shield bantu untuk ngurangin sakit itu.


gambar dari sini


Tuesday, May 19, 2015

Tentang Donor ASI: Hukum Negara dan Hukum Islam

Lima tahun yang lalu, cari botol untuk menyimpan ASIP masih susah. Bahkan 10 tahun lalu pilihan pompa ASI masih sangat terbatas. Seiring makin meluasnya informasi tentang pentingnya ASI, makin meleknya pemahaman para ibu (dan bapak!), begitupun pengetahuan tentang memerah dan menyimpan ASI Perah (ASIP). Yang tadinya nggak pada tahu bahwa ASI bisa disimpan, bahkan dibekukan berbulan-bulan, jadi pada punya stok ASIP beku.



gambar dari sini

Printilan penyimpanan ASIP seperti kantong ASIP, botol kaca ASIP, stiker ASIP, cooler bag plus blue ice, bahkan sampai freezer yang difungsikan khusus untuk ASIP juga sudah banyak dimana-mana. Nah, dari keleluasaan sekarang ini, mulai ada penawaran dan kebutuhan akan donor ASI.

Donor ASI sebetulnya bukan hal baru. Ratusan tahun lalu ibu susu merupakan hal yang jamak, bahkan ada masanya merupakan profesi yang prestisius. Karena berkaitan langsung dengan nutrisi anak, otomatis ibu susu juga memiliki kriteria sendiri. Seperti misalnya saat keluarga Nabi Muhammad memilih Halimah sebagai ibu susu, betul-betul dicari seperti berdasarkan bibit bebet bobot. Hal ini karena sesuai syariah Islam nantinya anak yang disusui akan diperlakukan sebagaimana saudara sedarah dengan keluarga si ibu susu. istilahnya menjadi mahram.

Jaman sekarang ibu susu yang menyusui langsung nampaknya sudah sangat jarang, ya. Tapi untuk pendonoran ASI tidak langsung (dimana pemberian ASI donor melalui media lain seperti pipet, botol, sendok dll) sepertinya meningkat karena berbagai alasan. Contohnya:
  • over supply ASI sehingga kelebihan stok ASIP,gue
  • ibu meninggal ketika melahirkan,
  • ibu menyusui punya masalah yang menyebabkan produksi ASInya menurun sehingga butuh donor,
  • bayi mengalami growth spurt dan produksi ASI si ibu kurang bisa menyesuaikan, dll.
Melihat kondisi ini, gue penasaran bagaimana sebenarnya kedudukan hukum pendonoran ASI ini baik dalam hukum Indonesia maupun Islam. Hukum Islam dipandang lebih complicated karena memandang saudara sesusuan menjadi saudarah sedarah, sementara di ajaran agama dan kepercayaan lain tidak mengatur tentang ini.

Bagaimana pandangan dari sisi hukum, baik negara maupun Islam?

Dari hukum Indonesia, tidak ada masalah yang mengikat, kecuali bila proses pendonoran ASI dilakukan dengan sistem jual-beli. Dimana sesuai Pasal 11 ayat (2) PP 33/2012 ayat e: ASI tidak diperjualbelikan. Tapi disitu tidak ada keterangan juga apa sanksi yang bisa diberikan bila dilakukan jual-beli. Jadi tinggal dikembalikan kepada pemberi dan pendonor, syarat apa yang hendak ditetapkan dalam pendonoran ASI.

Yang disarankan untuk diperhatikan diantaranya:
  • identitas, agama, dan alamat pendonor ASI diketahui dengan jelas oleh ibu atau keluarga dari bayi penerima ASI;
  • persetujuan pendonor ASI setelah mengetahui identitas bayi yang diberi ASI;
  • pendonor ASI dalam kondisi kesehatan baik dan tidak mempunyai indikasi medis.
Plus beberapa orang menambahkan bahwa pendonor diharapkan:
  • tidak merokok (lebih baik lagi kalau juga tidak terpapar rokok dalam kesehariannya), minum alkohol, dan mengkonsumsi narkoba.
  • memiliki kebiasaan makan sehat berimbang.
  • beragama Islam bila penerima juga muslim, dengan pertimbangan mengenai konsumsi makanan tidak halal.
  • mempunyai bayi dengan jenis kelamin yang sama dengan penerima untuk menghilangkan masalah dikemudian hari terkait mahram secara langsung (kedua anak sesusuan menikah), walau masih akan ada keterikatan mahram dengan keluarga kedua pihak.
  • Usia bayi yang dapat menjadi mahram karena sepersusuan adalah dibawah dua tahun. Diatas dua tahun dalam kondisi apapun dianggap tidak mungkin jadi mahram dengan sebab sepersusuan.
  • Ada ukuran banyaknya frekuensi penyusuan yang berakibat jatuhnya mahram, yaitu minimal lima kali susuan langsung. Ada juga pendapat lain yang memegang lima hari menyusu langsung.
  • Pengukuran satu kali susuan didasarkan lamanya bayi menyusu langsung sampai dilepas dengan sendirinya.
  • Melepas/berhenti menyusu sementara untuk menarik nafas sebentar atau berganti posisi tidak dihitung sebagai akhir satu persusuan.
Nah, yang jadi pertanyaan:
  1. Bagaimana dengan persusuan tidak langsung/melalui media? Apakah mahram juga bisa jatuh atau hanya jatuh bila dilakukan langsung?
  2. Bagaimana juga dengan penerima donor ASI yang asalnya tidak hanya dari satu pendonor?
  3. Dari patokan lima kali persusuan langsung, jika dikonversikan ke dalam jumlah ASIP, jadi berapa banyak? (Mungkin ada patokan jumlah mililiter ASIP atau pedoman lain).
Sayangnya nara sumber yang gue temui di acara AIMI Workshop ASI untuk Ustad/Ustadzah, yaitu dr. Asti Praborini, Sp.A, IBCLC dan Ust. Ahmad Misbah Habib, M.Pd juga tidak bisa menjelaskan dengan gamblang poin-poin yang tersebut. 

Jadi yang bisa disimpulkan:
  • Jadikan opsi donor ASI sebagai opsi terakhir. Jika ada masalah dalam produksi ASI atau kesulitan menyusui, baiknya masalah tersebut dicari solusinya terlebih dahulu.
  • Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa pendonoran ASIP yang diminum melalui media tidak/lemah kedudukannya dalam menjadikan mahram. Diantaranya dari pendapat Yusuf Qardawi.
  • Belum ada ukuran baku jumlah ASIP yang disepakati untuk menjadikan mahram.
  • Keputusan mengikuti pendapat/mazhab yang mana kembali pada masing-masing pendonor/penerima.
  • Simpan catatan data kontak pendonor/penerima sebagai referensi di kemudian hari.
  • Cantumkan/mintalah data kesehatan dan riwayat penyakit yang pernah dialami sebagai pendonor/penerima donor dengan lengkap.
  • Sebaiknya tetap menjaga silaturahmi antara keluarga pendonor dan penerima walau bayi sudah besar, terutama yang donornya dalam jumlah cukup banyak sehingga dimungkinkan telah jatuh mahram.
Moga-moga tulisan ini bisa bantu Mama-Mama yang sedang mempertimbangkan untuk kasih donor atau mencari donor ASI.

Wednesday, March 25, 2015

Exclusive Breastfeeding = 100% Breast Milk?

71560073Well yeah, that's the general idea. And that was my previous thought too.

But I did not put it as a big deal to my breastfeeding job (job? yes it is a job. I will mention about this in the next post). It doesn't affect my motivation to keep breastfeeding although two of my babies were formula fed during their first hours at the hospital. It is definitely not a right policy for hospitals to 'force' formula-feeding of course. But whatever, that's the ugly truth here in this country.

Later I found out that this exclusive breastfeeding label has in fact caused some new moms to lose their breastfeeding motivation. They even ceased from being a breastfeeding mom. This happens only because they have to add a few bottles of formula to support their babies at early hours while waiting the breast milk to be fully produced. What a pity and what an impact of what labeling can do.

Let's just break things down. We breastfeed our babies to get the most of the best food for babies under 6 months old.

Some of breast milk’s advantages are (as we all know :P):
  • almost none allergic reaction (if there is, observe the mother's diet).
  • full of antibody that works way beyond the breastfeeding age.
  • full of primary nutrition that is needed for baby's growth and development. Mostly for brain and the neurological system.
  • lowering the risk of breast cancer for the mother.
  • natural way to lose weight for the mother.
As for me, add caring 2, (and later 3! :D) more toddler without any assistance, and I get my size 29 jeans back before my baby is 9mo :P…but I still have to get rid that baby fat in my tummy for sure *sigh*.

So with all these advantages, why should we bother whether we had breastfed our babies exclusively or not if it was just about this few unimportant bottles of formula?

How significant it is considering that later on we will breastfeed for at least two years?

How significant it is the 2-3x 30ml of formula, than a freezer (or more!) full of pumped breast milk?

How significant it is…to sacrifice our descendants’ well-being, just because the label?

I’m breastfeeding three babies since December 12, 2004 until this very day. I have stopped only for 1 month + 4 months, both during pregnancies. My first baby got about 2-3 days of formula during his first days. While my second one got 1 x 30ml because my husband, unknowingly, has given the authority to the hospital for giving formula while I’m still in the recovery room after a C-sect.

(edited on Mar 25, 2015:
I'm still breasfeeding my 4th that is 3y 4d today. That will count as 10y 3m journey of breasfeeding. Still my day off record is unchanged 1 month + 4 months. My 3rd and 4th never knew baby bottles, neither formulas. They start eating at 6m or a bit more, while their older siblings started earlier. And to my surprise, they eat much better than the older ones.

Yes, babies aren't necessarily need or related to bottles, be it formula or expressed breastmilk fed.)

Fortunately I have won the battle with the hospital staffs *lebay* so my youngest boy haven’t had a drop of any formula. Such an unimportant and annoying effort *sigh*…

Still, I’m proud and I claimed that I have breastfed all of my babies EXCLUSIVELY for their first six months, regardless what people might say about my situation.

But my point is...let’s just breastfeed and ignore any label. Breastfeeding can never be wrong.

Monday, November 22, 2010

Growth Spurt (terutama) Pada Bayi

Growth spurt sebenarnya bagian penting dari perkembangan normal bayi. Semua bayi, baik bayi ASI maupun yang minum susu formula pasti mengalami growth spurt. Tapi memang paling keliatan pada bayi ASI karena si ibu jadi merasa keteteran karena jadwal minum bayi yang jadi lebih sering sementara jadwal tidurnya berkurang. Pada bayi yang minum susu formula, setidaknya susu formula lebih susah dicerna jadi bayi merasa kenyang lebih lama. Karena itu perubahan jadwalnya tidak sedrastis bayi ASI.


gambar dari sini

Wednesday, April 11, 2007

Mitos Yang Biasa Menggagalkan ASI Eksklusif

Berikut ini beberapa mitos yang biasa dilontarkan sebagai alasan gagalnya ASI eksklusif.
Saya baru nemu 7 alasan/mitos, nanti kalao ada tambahan diupdate deh!

1. Hari-hari pertama ASI belum keluar
Hari pertama sampai ketiga setelah melahirkan kadang dibilang ASI kita belum keluar, jadi bayi dikasih susu formula dulu saja. Dulu saya juga ‘tertipu’ pernyataan ini karena kurang pinter. Ternyata setelah baca info kiri-kanan, saya baru tahu kalau dihari-hari pertama itu bayi pun belum butuh ASI banyak-banyak. Karena dia masih membawa ‘kotak makan’ dari dalam rahim berupa cadangan lemak yang cukup sampai 24-36 jam pertama hidupnya.

‘Waktu luang’ ini dibuat supaya kita bisa latihan menyusui dengan tenang sampai produksi ASI mulai lancar. Tapi dari jam-jam pertama kita sudah harus mulai menyusui bayi lho – lebih tepatnya membiarkan bayi terbiasa dengan ‘dot susu’ barunya. Jadi jangan terus ada waktu luang, kita malah males untuk memulai (seperti hari-hari pertama saya dengan Darris. Jangan ditiru!). Karena semakin awal kita belajar menyusui, semakin cepat pula ASI lancar. Lupakan juga susu formula, karena kalau bayi sudah minum susu formula, dia akan kenyang dan kalau sudah kenyang siapa juga yang mau makan lagi. Kita juga kalau sudah kenyang, dikasih makanan enak juga jadi ga selera kan? Padahal tanpa rangsangan dari bayi, ASI jadi kurang lancar.

Akhirnya kayak lingkaran setan:

ASI kurang -> susu formula -> bayi kenyang -> emoh ASI -> ASI tetep kurang (bisa-bisa malah tambah berkurang!).

Kenapa engga dibuat begini:

ASI kurang -> tetep disusukan -> bayi lapar -> tetep kasih ASI (kalau gak ada pilihan lain pas lapar, pasti diembat juga kan?) -> ASI jadi terangsang keluar -> bayi tambah semangat nyusunya -> ASI tambah lancar, bayi kenyang, ibu senang!

Buat ibu-ibu baru, memang agak susah juga ya, gimana tahunya ASI sudah keluar atau belum. Tapi untuk awal-awal mending engga usah jadi pikiran. Yang penting bayi nempel dulu, ASI pasti keluar sendiri meski kita ga sadar. Waktu awal-awal saya menyusui Fidellynne, saya juga engga merasa ASI keluar (padahal sudah anak kedua lho!). Tapi saya ga peduli. Tetap saya kasih ASI sambil makan makanan bergizi dan banyak minum. Di akhir bulan Fidellynne naik 9 ons. Nah, kalau berat badan naik kan pasti cukup ASI kan?

Yang penting, LUPAKAN SUSU FORMULA. Itu SUSU SAPI buat BAYI SAPI. Bayi IBU harus dapat AIR SUSU IBU dong!

2. Tidak ada pengaruh ukuran payudara dengan keberhasilan ASI eksklusif
‘Botol susu’ saya asalnya cuma beda dikit sama telur mata sapi. Waktu hamil nambah cuma senomer, itu juga cup-nya tetep. Di masa menyusui pun banyak yang bilang seperti engga ada isinya. Tapi alhamdulillah Darris dapat ASI sampai umur 20 bulan (sampai saya hamil Fidellynne 8 bulan). Orang lain malah bisa 3-4 kali lipat lebih besar dari ukuran sebelum hamil dan tetep engga berhasil ASI eksklusifnya (padahal udah dimodalin dari sononya...hehehe).

3. Tidak ada beda bayi lahir normal dengan caesar.
Darris lahir normal, Fidellynne lahir lewat jalan tol karena sungsang dan terlilit ari-ari.

Salah satu kekhawatiran saya setelah menjalani operasi caesar adalah bahwa saya akan terlambat melakukan bonding dan hal itu akan mengurangi kelancaran produksi ASI. Namun kekhawatiran saya ternyata tidak terbukti. Segera setelah saya keluar dari ruang pemulihan, saya langsung mencoba memberikan ASI dengan posisi tidur dan ternyata sama sekali tidak ada kendala. Sejak itu Fidellynne tidak pernah lepas dari ASI.

4. Tidak ada beda bayi sudah kenal susu formula/botol sama belum.
Darris dan Fidellynne sama-sama kena susu formula dulu sebelum ASI.

Kalau Darris karena saya belum pinter. Saya engga tahu soal hari-hari pertama yang bayi masih bawa ‘kotak makan’ sendiri itu, jadi saya sempat minta tambahan susu formula (padahal dari RS sudah dikasih air gula yang cukup untuk kebutuhan bayi selama kita belajar menyusui). Tapi sejak hari ketiga, saya full kasih ASI untuk memperkuat ketahanan tubuhnya setelah Darris dinyatakan positif infeksi akibat ketuban keruh. Alhamdulillah, ASI ternyata memang sangat membantu, karena tes berikutnya sudah negatif, meski kompensasinya berat badannya selama bulan pertama engga naik banyak. Mungkin karena sebagian besar pasokan ASI digunakan untuk melawan infeksinya.

Fidellynne dapat susu formula karena ayahnya yang belum pinter. Saya sudah komitmen ASI eksklusif (kalau ASI biasanya dari RS cuma dikasih air gula), eh bapaknya ditanya milih susu formula apa malah menjawab. Akhirnya Fidellynne gak jadi dapat air gula, dapatnya susu sapi. Mana saya tahunya sudah telat lagi. Karena lewat operasi, saya ga bisa segera ketemu Fidellynne. Saya di ruang pemulihan selama 17 jam. Begitu saya masuk kamar inap, Fidellynne langsung saya minta untuk rooming-in (nginap satu kamar, diambil suster cuma untuk dimandikan), dan saya stop susu formulanya. Memang harus dengan posisi tidur menyusuinya. Tapi alhamdulillah engga ada kendala berarti.

5. Tidak ada beda bayi laki-laki dan bayi perempuan.
Ya beda sih jumlah yang diminum dan cara minumnya. Kalo bayi laki-laki minum lebih banyak dan lebih rakus. Tapi disini maksud saya adalah ASI akan selalu cukup engga peduli jenis kelamin bayi kita apa. Kalau menurut pengalaman saya, ketika menyusui bayi laki-laki, saya selalu lapar. Bukan lapar sih, tepatnya kelaparan! Saya jadi makan dua kali porsi normal. Itupun biasanya masih lapar. Tapi pas menyusui bayi perempuan engga begitu. Kesimpulannya, bayi laki-laki atau perempuan ASI tidak akan kurang. Kompensasinya paling-paling kitanya yang harus makan satu gerbong tambahan.

6. Alergi ASI
Rasanya engga mungkin deh bayi alergi ASI. Kalau sampai ada yang namanya ‘alergi ASI’ pastinya umat manusia ga bakalan hidup sampai jaman ini dong!
Yang bener mestinya alergi bahan yang terkandung dalam ASI yang asalnya dari makanan ibu. Lagipula, bukankah dalam ASI masih lebih banyak terkandung zat-zat yang diperlukan bayi daripada susu pabrik? Saya bilang susu pabrik, bukan susu sapi karena biasanya bayi yang alergi engga dikasih susu sapi tapi susu kedelai/soya. Eh, tapi sebagian bayi yang alergi susu sapi, pasti alergi susu kedelai juga lho. Nah kalau begini mesti dikasih apa dong? Coca-cola?

Beberapa bayi daya cernanya masih belum mampu untuk mengurai zat tertentu dari makanan ibu yang ikut masuk dalam ASI, sementara bagi bayi yang lain no problem. Mungkin ini sebabnya kenapa di beberapa kebudayaan ada larangan makan/pantang makanan tertentu bagi ibu menyusui.

Contoh yang paling gampang aja, bayi yang alergi susu sapi akan bereaksi kalau ibunya habis minum susu sapi. Menurut penelitian, protein dalam susu sapi yang diminum sang ibu, sudah ikut masuk ke ASI dalam selang waktu 10 menit. Solusinya ya ibu pantang dulu minum susu sapinya (termasuk susu untuk ibu menyusui). Kalau takut kurang gizi, coba penuhi kebutuhannya dari sumber yang lain. Kandungan susu sapi yang cukup penting umumnya kalsium, vitamin D, dan lemak. Jadi kita tambah aja suplemen kalsium dan vitamin D. Kalau untuk lemaknya apa masih perlu ditambah?..Bukannya masih ada cadangan dari tabungan sembilan bulan kemarin?...hehehe...

Ngomong-ngomong soal alergi nih, untuk bayi yang daya tahannya kurang kalau kena susu sapi selain jadi alergi sama susu sapi juga jadi terpicu untuk alergi terhadap bahan lain (misalnya telur, kacang, buah). Makanya bayi yang semula alergi susu sapi jadi alergi juga sama susu kedelai/soya. Padahal kalau dapat ASI justru dapat zat-zat yang membantu melindungi saluran cernanya dari alergen-alergen tersebut. Oya, bentuk alergi bisa macam-macam. Umumnya sih diare, tapi bisa juga muncul berupa gatal-gatal/kulit merah-merah (urticaria), sesak nafas, batuk-pilek, dsb.

7. Takut tambah gemuk
Memang sih kalau menyusui kita akan makan lebih banyak. Tapi makanan itu engga numpuk jadi lemak kita, melainkan jadi ASI. Justru menyusui malah bikin kita kurus lebih cepat. Pernah nonton serial ‘Desperate Housewife’? Disitu pernah disinggung salah satu teman Lynette Scavo masih menyusui anaknya sampai umur empat tahun (!) cuma sebagai sarana diet. Dia takut kalau sampai stop menyusui, malah jadi harus banyak ke gym untuk jaga berat badan.

Soal kurus lagi, hmm.. saya juga heran nih. Hamil Darris, berat badan saya naik 11 kilo (53 kg -> 64 kg). Habis melahirkan jadi 54 kg, terus naik lagi 57 kg. Lewat masa ASI eksklusif, stabil di 54-55 kg. Berarti berat badan saya cepat kembali normal, kan? Nah, tapi celana jeans boot-cut kesayangan saya kok belum cukup juga ya? Malah celana cargo yang masih saya pakai saat hamil 7 bulan juga masih ga cukup. Setelah Darris setahun lebih, saya baru bisa pakai lagi jeans boot-cut itu.

Hamil Fidellynne berat saya cuma naik tujuh kilo (54 kg -> 61 kg) dan saya harus relain si boot-cut lagi. Tapi ketika si adik umur empat bulan berat saya cuma 52 kg. Hmmm, bikin iri ya? Jangan deh, soalnya si boot-cut kesayangan tetep belum cukup! Kayaknya saya masih harus nunggu delapan bulan lagi untuk berjeans ria.

Kesimpulannya berat badan turun bukan berarti bentuk badan kembali normal. Mungkin bener yang saya baca di buku ‘Girlfriend’s guide to pregnancy’ oleh Vicki Iovine (jangan khawatir, ini buku terjemahan bahasa Indonesia kok). Logikanya badan kita berkembang secara bertahap selama sembilan bulan lebih. Maka jangan harap pekerjaan sembilan bulan itu bisa dihapus dalam tiga bulan (apalagi semalam!). Paling tidak kita butuh sembilan bulan lagi (biasanya sih lebih, ..hehehe..) untuk kembali ke bentuk semula. Tapi lupakan soal stretchmark. Kalau mau itu hilang juga, mungkin kita mesti ganti kulit....

Wednesday, March 14, 2007

Kunci ASI Eksklusif

Alhamdulillah saya sukses menyusui Darris dan Fidellynne tanpa harus ditambah susu formula. Pada awalnya saya berkomitmen akan menyusui anak-anak saya sampai usia 2 tahun. Tapi karena saat Darris setahun saya sudah hamil lagi, akhirnya Darris dapat ASI hanya sampai usia 19-20 bulan. Ya betul, sampai saya hamil 8 bulan saya masih menyusui Darris.

Kalau mengikuti istilah ASI eksklusif, untuk Darris mungkin kurang tepat, karena ketika usianya kurang dari 6 bulan sudah mulai saya beri MP-ASI (bubur susu). Bukan karena ASI kurang, tapi karena 'termakan' eyang putrinya yang selalu ribut setiap kali Darris nangis dibilang kurang kenyang. Lama-lama (karena kurang pinter juga waktu itu) saya terpengaruh juga.

Untuk Fidellynne, full ASI eksklusif. Tiap kali eyang putrinya tanya "Ngga dikasih makan?" saya jawab "Nanti...kalau sudah 6 bulan". Ketika Fidellynne 5 bulan, ditanya pertanyaan yang sama, saya jawab "Iya bu, bulan depan..".

Tapi untuk susu formula/susu tambahan, saya sudah komitmen baru akan diberi bila usia diatas 1 tahun.

-> Oya, kalau sudah diatas 1 tahun, susu tambahan tidak harus susu formula lho. Bahkan susu UHT (susu Ultra misalnya) lebih baik. Karena yang dibutuhkan dari susu hanya kalsium dan lemak. Hati-hati dengan zat-zat tambahan yang lain seperti DHA, AA, dll karena zat-zat tersebut tidak sealami yang terdapat di ASI sehingga ada kemungkinan susah dicerna. Apalagi untuk bayi dibawah 1 tahun!

Darris dapat susu tambahan secara rutin kira-kira mulai umur 18 bulan. Alhamdulillah cocoknya sama susu Bendera 123 yang ga terlalu berat di kantong. Pernah saya coba belikan Excella Gold, eh malah diare. Terpaksa deh susu mahal itu saya yang habiskan.. meski rasanya ugghh..

Back to title...
Kunci ASI eksklusif untuk saya ada 7 (nanti kalau ada tambahan pasti saya update!), yaitu:
  1. Niat
  2. Sering menyusui
  3. Banyak minum
  4. Cukup gizi
  5. Dukungan dari suami.
  6. Dukungan dari lingkungan dalam
  7. Dukungan dari lingkungan luar
Penjelasan dari masing-masing poin adalah seperti berikut ini...

1. Niat
Saya berkomitmen menyusui sendiri bayi saya karena saya yakin bahwa ASI adalah yang terbaik bagi mereka. Saya punya keyakinan bahwa saya mampu. Karena saya adalah seorang Ibu yang sudah menggendong mereka selama sembilan bulan dengan hormon yang gak karuan, maka hormon yang sama HARUS membuat saya BISA menyusui mereka pula.

Selain itu juga karena saya males kalau harus cuci-steril botol susu dan harus bangun malam untuk bikin susu. Bikin susu, apalagi untuk bayi baru yang harus pakai air panas segala, syaratnya kita harus bener-bener bangun dan sadar. Kalau engga siap-siap deh yang namanya kena air panas, susu bubuk tumpah berceceran kena senggol, dan kecelakaan kecil lain. Kecelakaan kecil memang, tapi cukup bikin repot kita yang udah kerepotan. Mana kalau kita sudah bangun, kadang susah tidur lagi.

Lain kalau kita kasih ASI, kita cukup sekadar sadar – kadang tanpa harus melek – untuk memastikan payudara masuk ke mulut bayi terus bisa tidur lagi deh. Kita sudah cukup kurang tidur ketika bayi agak rewel, jadi jangan ditambah lagi dengan kerepotan bikin susu malam-malam bareng orang pergi dugem. Kalau ada waktu yang bisa dipakai tidur, mending dimanfaatkan sebaik-baiknya, deh.

Jangan dengarkan kata orang-orang yang meragukan kita. Justru keraguan orang tua (ibu kita), mertua, atau bahkan suami, menjadikan kita terbebani, kepikiran, meragukan diri sendiri, stress, dan malah bikin ASI gak lancar atau justru gak keluar.

Kadang bayi nangis habis kita susui dibilang ASI kita kurang, makanya bayi masih lapar. Jadi harus ditambah susu formula. Padahal menurut pengalaman saya, kalau nangis habis disusui itu biasanya disebabkan bayi pengen sendawa tapi engga bisa sendawa sendiri. Makanya dia teriak minta dibantu sendawa. Habis disendawakan biasanya langsung tidur kekenyangan.

2. Sering menyusui
Seberapa sering? Setiap waktu, susui bayi kita. Baru berhenti kalau dia sudah muntah.. hehehe..kalau perlu bayi selalu nyantol sama kita (kayak gak ada kerjaan lain ya?). Tapi betul lho. Karena makin sering kosong, makin sering pula terisi. Oya, sebetulnya gak ada tuh yang namanya ASI habis. Yang ada tinggal sedikit. Karena engga bakal pernah kosong sama sekali. Saya pernah coba berikan yang ‘kosong’ ternyata bayi tetap minum, bahkan gak lama kemudian ‘ngisi’ lagi.

3. Banyak minum
Solusi cepat untuk menambah pasokan ASI adalah minum air banyak-banyak. Lebih bagus lagi kalau bisa minum susu banyak-banyak dan makan banyak-banyak.

4. Cukup gizi
Makan banyak memang perlu untuk menambah pasokan ASI. Tapi ternyata kalau yang banyak dimakan kurang bergizi juga engga seberapa ada efeknya sama jumlah ASI. Saya pernah heran sudah banyak makan tapi kok ASI ga sebanyak biasanya. Ternyata setelah diingat-ingat hari itu saya lebih banyak makan junk food dan bakso (maklum, hari jalan-jalan dan makan diluar sih..).

Sebaliknya, ketika saya makan porsi biasa tapi banyakin sayur dan buah, ASI jadi banyak keluar. Daun katuk buat saya sama efeknya dengan sayur-sayur yang lain. Yang penting sayuran hijau. Kacang-kacangan juga bagus. Kalau lagi butuh suplemen ASI, coba minum kacang hijau atau makan bubur kacang hijau deh.

5. Dukungan dari suami.
Minimal suami harus menghargai keinginan kita untuk memberikan ASI. Jangan malah ribut nanti takut bentuk badan jadi kurang bagus..bla..bla..Apalagi sampai nakut-nakutin bakalan kawin lagi. Syukur-syukur bisa ikut bangun malam nemenin nyusuin. Apalagi sambil mijatin. Menyusui sambil dipijat suami bikin ASI langsung deras lho. Ga percaya? Coba aja!

Kita kasih ASI justru membantu mengurangi belanja bulanan lho. Menyusui juga membuat kita kurus lebih cepat. Karena lemak kita (dan makanan kita yang bakal jadi lemak tambahan!) justru diolah jadi ASI. Ditambah kalau kita ngurus bayi kecil kita sendirian, dijamin berat badan turun lebih cepat. Bobot saya ketika Fidellynne umur 4 bulan justru lebih kecil (52 kg) daripada bobot sebelum hamil Darris (53-54 kg)!

6. Dukungan dari lingkungan dalam
Bayi baru = situasi baru; buat kita, apalagi buat bayi. Kadang ini bikin kita stres karena mahluk yang satu ini suka engga jelas maunya apa. Lapar nangis, bosen nangis, ngantuk nangis. Semua ditangisin deh pokoknya. Padahal buat kita kalo sampe nangis berarti udah parah banget, sementara buat bayi cuma pengen kasih tunjuk sama kita kalo ada sesuatu yang agak kurang pas dikit.

Bagi beberapa nenek baru, bayi baru juga tantangan baru. Hmm, masih ingat ga ya ilmu-ilmu jadul? Padahal cucu barunya ini anak milenium. Belum tentu tangisannya bisa diterjemahin sama kamus terbitan pertengahan abad lalu (kayak udah lamaaaa banget ya? Hehehe... padahal emang iya...). Nah, kadang mereka salah terjemahin cucunya yang lagi kembung dibilang kurang makan. Terus si ibu baru dibilang ASInya kurang. Jadi tambah stres deh. Udah stres denger tangisan bayi, makin stres mikirin ASI yang dibilang kurang. Akhirnya jadi lingkaran setan:

Bayi minum -> bayi nangis (biasanya habis minum pengen sendawa) -> dibilang masih lapar -> engga disendawain, malah dipaksa minum lagi -> tambah keras tangisannya -> ibu baru stres -> ASI malah ga lancar.

Jadi gimana dong taunya bayi sudah kenyang apa belum? Ya tanya bayinya dong. Bayi ga harus minum sejam untuk kenyang. Kadang lima menit sudah cukup untuk bikin dia tidur tenang lagi. Tapi biasanya, makin lama jarak antar minum, makin lama/banyak minumnya. Juga kalo dia kelihatan kepanasan, keringetan, biasanya pengen minum. Sama kayak kita.

Ibu baru, yang tau maunya bayi baru biasanya ya ibunya, yang sudah konek sembilan bulan sebelumnya. Nenek baru cukup diperhatikan saran-saran teknisnya aja (cara memandikan, cara ngerawat pusar, dsb). Tapi masalah komunikasi, coba deh pake telepati sama si adek. Biasanya ibu baru lebih bener daripada nenek baru.

Untuk bayi yang bener-bener lagi susah diredakan tangisannya, coba baca buku “Bayi paling bahagia di dunia” karangan Harvey Karp, M.D. Bukan pesan sponsor lho, cuma bagi-bagi pengalaman.

7. Dukungan dari lingkungan luar
Ini syarat yang paling sulit menurut saya. Karena kita agak sulit mengubah kantor menjadi ASI-friendly misalnya, mengubah supermarket dan mall (meski sejumlah mall baru sekarang sudah menyediakan tempat menyusui dan ganti popok – nursery/baby changing room. Ngomong-ngomong ternyata susah ya ganti popok kotor di kamar mandi mall. Ga ada tempat buat tempat berbaring balita. Solusinya paling ya popok model pull-up). Sulit memang, tapi bukan berarti tidak bisa. Makanya kita kampanye ASI. Salah satunya dengan memforward tulisan ini...
(Yeeee...! Pesan sponsor nih...!).