Ini adalah sebagian kecil dari pengalaman saya yang berhubungan dengan Kehamilan, Persalinan, dan Menyusui. Referensi saya belum banyak memang. Tapi cukuplah untuk dibagi-bagi, daripada disimpen sendiri entar jadi jamur ... :D
Mohon maaf apabila beberapa posting atau artikel terkesan sangat subyektif (ini pengalaman saya geto loh...hehehe), atau bahkan negatif. Tulisan-tulisan saya juga bukan dimaksudkan untuk menjustifikasi *bener gak ya term yang dipake? susye amat bahasanya buk??...* salah atau benar. Karena setiap Mom pasti ingin yang terbaik bagi anak-anaknya, dan pasti memiliki alasan yang kuat dibalik setiap keputusan yang diambil untuk buah hati tercinta.
Semoga pengalaman yang baik dapat menjadi referensi, sementara pengalaman yang buruk dapat menjadi pelajaran/hikmah bagi kita semua.
Oiya, kenalin, saya Kirana. Ibu dua anak, Darris (cowo, 12 Desember 2004, persalinan normal, 4 kg/52cm) dan Fidellynne (cewe, 30 September 2006, ops caesar, 3,6kg/50cm). Perlu diperhatikan bahwa saya bukan dokter, semua yang saya tulis hanya berdasarkan pengalaman saja, jangan dijadikan dasar medis.
Ingin kenal lebih jauh tentang kami?
Mampir dooongg ke sini...
Untuk kembali ke blog Being a Mommy ini klik link paling bawah di sebelah kanan blog tersebut.
Met blog-walking...!!!
Salam,
Kirana
Saturday, April 11, 2020
Friday, October 9, 2009
Mini Tote Bag Organizer
Sempet disebut-sebut di posting yang ini, sekarang gue mau bahas khusus si Mini Tote Bag Organizer ini.
courtesy of Jeng Opi van pernakpanikKeterangan dari Jeng Opi:
- Bentuknya sama kayak Siggy, cuma ngga ada bordiran dan tanpa dust bag
- Ukuran besar: 28 cm X 20 cm X 8cm
- Fully padded (semua dilapisi busa)
- Zippered Pocket on the back
Lho, dulu katanya Siggy Bag? Ho oh, yep, emang. Siggy karena pake signature 'Bencong FD' atau 'MP Addict', istilah yang umum dipake di forum Fashionesedaily (FD). Tapi sekarang karena dipasarkan di luar FD, maka produk yang belakangan gak pake signature. Namanya pun jadi Mini Tote Bag Organizer. Oiyah, bahannya si Mini Tote ngga waterproof, sementara Siggy Bag waterproof. Bahan ngga terlalu signifikan kayaknya yah? Apa mau dipake brenang? :D
Sesuai namanya, gunanya yaaa...bikin tas lebih terorganisir :D
Gue sampe ga pernah beli tas yang blong gitu gara-gara ga tahan semua barang campur aduk jadi satu di dasar tas. Tapi sekarang udah ada Mini Tote Bag Organizer doongg...bukan masalah lagi doongg...
Seberapa banyak barang yang bisa di-organize sama tas kecil ini? Berikut hasil abuse-an gue :))
detilnya (nyontek posting sebelumnya):
- tisu basah 2 pak, tisu kering 2 pak
- lipetan kantong kresek,
- 2 diaper biasa, 1 diaper pants,
- 1 stel (atas bawah) baju cadangan Devan,
- sewadah kapas basah buat cebok,
- toiletries (BBW Pocket Bac 90ml, BBW Splash Dancing Waters 60ml, talk mini, minyak telon 30ml, baby cream 50ml),
- printilan lain (kasa alkohol sachet, karet, recehan, cottonbud, korek api *ngga gw ngga ngerokok, demikian pula bapaknya krucil* - jangan tanya buat apaan printilan ini, anggep aja p3K :D)
Di sisi kiri (ato kanan, terserah ngeliatnya dari mana :D), ada kaitan buat nyangkutin kunci (bisa kunci rumah ato kendaraan), supaya ngga ribet kudu ubek-ubek seisi tas sekedar buat nyari kunci yang kelelep. Sisi satunya sebenernya gue udah rikues untuk dikasi kaitan juga, tapi rupanya blue printnya tidak begitu *lirik juragan bagO*. Maka akhirnyalah gue sangkutin sendiri kuncian dustbagnya *astaga, kesian benneerr*, biar ada! Wahahaha...

Kaitan yang ini gue pake nyangkutin tali panjang tempat nyangkutnya hape :D
Kenapa? Supaya hape tersebut tidak kelelep juga sebagaimana kunci-kunci tadi ceritanya. Tinggal tarik talinya, kepancing dah hapenya :))
Kenapa gak diselipin ke pocket Mini Tote seperti seharusnya? Yaelah, kaga liat luh udah segitu isinya? :P
Salah satu sisi luar Mini Tote ini, ada pocket yang pake ritsleting. Keliatan kan dari gambar Mini Tote biru diatas? Bisa buat hape, small change, ato apa aja deh yang sekiranya perlu diamanin lebih ketat :D
So, that's how I change my bag, into Diaper Bag...
*yah well, selain karena kikir males beli diaper bag beneran yang harganya juta-juta itu cencunyah hihihihi...*
Friday, June 12, 2009
Kalau Bayimu Dibilang Hipoglikemik ...
(as posted by Ellen Kristi at Facebook Notes)
Share
Yesterday at 2:41pm
Salah satu faset dari cerita lahirnya Gandhi adalah diagnosis dia mengalami hipoglikemia alias gula darah rendah.
Alkisah, setelah selesai IMD dan Gandhi dibawa ke ruang perawatan untuk dibersihkan dsb., datanglah seorang perawat memberitahuku: "Bu, bayinya nanti belum bisa rooming-in dulu karena setelah diperiksa gula darah sewaktu (GDS)-nya kurang dari 45, padahal bayi Ibu besar, lebih dari 4kg. Jadi kata dokter harus diberi susu formula dulu supaya GDS-nya paling tidak 50."
Tentu saja aku kaget dan spontan menolak. Wong sudah tanda tangan pernyataan mau ASIX kok tiba2 anak mau didublak sufor. Kebetulan perawat itu juga tidak bisa menerangkan dengan jelas pengaruh GDS rendah pada kondisi bayi. Cuma bilang, "nanti bisa kejang-kejang" ... hahhh??? Itu ilmiah atau cuma akal-akalan biar bayi dikasih sufor ya? Soalnya sampai hari itu juga, aku belum pernah dengar ketentuan bayi besar harus dikasih sufor kalau GDS-nya rendah --- wong di kliniknya ibuku juga suka ada bayi besar (malah sampai 4,5kg) tapi ga pernah dicek GDS dan tidak pernah ada riwayat bayi kejang karena GDS rendah. Jadi, dengan kukuh aku bilang TIDAK SETUJU bayiku dikasih sufor dan si perawat dengan wajah agak gimana gitu bilang, "Ya, itu hak Ibu, pokoknya kan kami sudah memberitahu."
Sampai di kamar, aku langsung minta Gandhi diantar rooming-in dan mulailah proses belajar menyusu. Ternyata gampang banget, Gandhi langsung pinter dan aktif menyusu. Beberapa jam kemudian, menjelang jam 9 malam kayaknya, si perawat yang tadi masuk lagi ke kamar dan tanya apa ASI-ku sudah keluar. Aku bilang iya. Apa bayinya sudah bisa menyusu. Lagi-lagi kubilang iya, kutegaskan bayiku nyusunya kenceng dan ASI-ku juga dah banyak (banyak kan relatif to???). "Kalau begitu saya bawa dulu bayinya untuk dites lagi GDS-nya ya!" Halah .... ternyata soal GDS lagi!
Dalam hati aku heran, kenapa sih soal GDS ini kayaknya penting banget, sampe malam2 Gandhi harus dites (dengan dicoblos??). Tapi aku ngerasa ditantang, apa betul ASI-ku dah keluar, jadi kuijinkan Gandhi dites dengan peringatan, "Pokoknya saya ga mau bayi saya dikasih sufor lo, Sus!" Si perawat agak kesal wajahnya dan menukas, "Iya, itu kan hak ibu mau dikasih sufor atau tidak ..." Kira2 setengah jam kemudian, si perawat mengembalikan Gandhi ke kamar dan memberitahu, "GDS-nya sudah bagus kok, Bu, 49." Aku juga ikut lega ... berarti ASI-ku bekerja dengan baik :-) dan sejak itu sampai kami pulang besoknya DSA dan si perawat ga pernah ribut lagi soal GDS.
Jadi, bagaimana sebetulnya duduk perkara soal GDS ini secara ilmu kesehatan anak?
DSA di rumkit sempat mencoba menjelaskan, tapi tidak jauh beda dari si perawat. Hanya bilang kalau bayi besar dan GDS rendah bisa berisiko anak kejang-kejang. Entah karena si dokter sibuk mau visit ke bayi yang lain atau akunya yang males minta penjelasan lebih lanjut, cukup sekianlah argumennya. Sangat tidak jelas, bagiku.
Aku baru mendapat jawaban yang lengkap waktu baca2 buku baru --- The Ultimate Breastfeeding Book of Answers tulisan Dr. Jack Newman dan Teresa Pitman --- yang dikadokan konco2 AIMI Semarang hari Minggu lalu. Ada di halaman 301-307. Berikut ini intisarinya:
FAKTOR RISIKO
Ternyata betul. Bayi tertentu berisiko mengalami hipoglikemia dan akibatnya bisa fatal. Penurunan kadar gula darah yang serius dapat menyebabkan kejang, kerusakan otak, bahkan kematian.
Tetapi, bayi 'tertentu' mana yang berisiko itu?
1. Bayi dari ibu penderita diabetes --- karena sejak dalam kandungan, bayi sudah terbiasa mengeluarkan insulin kadar tinggi untuk mengatasi tingginya kadar gula dalam darah ibu. Ketika ia lahir, ia tidak lagi mendapat asupan gula dari ibunya, tetapi mekanisme sekresi hormon insulinnya belum bekerja baik, sehingga kadar gula darah bayi turun secara drastis.
2. Bayi yang lahir prematur --- karena tidak memiliki banyak cadangan glikogen (gula kompleks yang bisa digunakan sewaktu2 kalau tubuh butuh glukosa), juga mekanisme produksi gula darah mereka belum berkembang dengan baik.
3. Bayi yang kurang gizi selama kehamilan, berat badan lahir terlalu rendah sekalipun lahir cukup umur --- karena alasan yang sama dengan bayi prematur.
4. Bayi yang 'stres' --- terutama stres akibat proses persalinan yang sulit atau stres karena perbedaan suhu udara antara dalam kandungan dan di dunia luar.
Intinya: bayi normal yang lahir tepat waktu kecil kemungkinan bahkan hampir tidak ada kemungkinan mengalami hipoglikemia.
Bagaimana dengan bayi besar (lebih dari 4kg)? Bayi besar sering dicurigai hipoglikemik karena biasanya bayi dari ibu penderita diabetes berukuran besar. Tapi kalau bayi besar yang normal, artinya kedua ortu tidak ada riwayat diabetes, sebetulnya tidak ada dasar untuk mencurigainya hipoglikemik.
Lantas, ini yang penting ...
APAKAH BAYI HIPOGLIKEMIK HARUS DIBERI SUFOR?
Jawabannya: TIDAK! Justru bayi hipoglikemik harus segera mendapat asupan kolostrum dari ASI, baik langsung menyusu ke ibu atau berbentuk ASIP atau donor ASI. Kenapa? Karena kolostrum adalah makanan terbaik bagi bayi untuk membantu mencegah hipoglikemia. Sebab, kolostrum tidak merangsang pembentukan insulin (yang akan menurunkan kadar gula darah).
Sebaliknya, susu formula justru mengandung berbagai macam nutrisi yang merangsang produksi insulin. Insulin tidak hanya menurunkan kadar gula darah, tetapi juga kadar gizi lain yang dibutuhkan bayi kalau tidak punya cukup glukosa, yi. asam lemak bebas dan ketone.
Telah diamati Dr. Newman, kadar gula darah bayi bereaksi lebih cepat dan terjaga dengan baik jika bayi mendapat kolostrum, bukan sufor. "Salah satu alasannya mungkin adalah karena insulin tidak dilepaskan sebagai reaksi atas kolostrum."
Juga untuk bayi yang kadar gula darahnya turun akibat stres, yang terbaik bagi bayi itu adalah sesegera mungkin kontak kulit dengan ibunya dan menyusu. Ia akan merasa hangat, mendapat asupan kolostrum, dan lebih cepat mengatasi stres + hipoglikemianya.
Jadi, kalau suatu waktu bayimu didiagnosis hipoglikemia, jangan ragu2 untuk menjawab, "Berarti harus rawat gabung dong, Dok/Sus, supaya bayi saya bisa segera dan sesering mungkin menyusu, kan kolostrum yang terbaik untuk menjaga kadar gula darah bayi!"
Subscribe to:
Posts (Atom)

