Friday, June 26, 2015

Kenapa ASI Untuk Anak Kedua Lebih Gampang: Part II

  • Udah tahu tanda bayi lapar dan kenyang.
New moms sering nggak sabar melepas isapan bayi yang kelihatannya sudah tertidur. Padahal selama bayi belum melepas sendiri, memaksa melepas malah bikin bayi melek lagi. Nggak nangis yang bikin full alert aja udah mendingan karena masih bisa ditidurin lagi. Kalau sampe bangun beneran, dadahbabay deh kerjaan yang mau disempetin beresin. 

Bayi sebetulnya jarang nggantel alias nggak ngelepas-lepas nyusu sampe berjam-jam sejak dia mulai merem. Nggak lama dari merem biasanya akan dilepas sendiri. Karena makin lama dia ngenyot, makin banyak ASI masuk ke perutnya, makin gak nyaman tidurnya. Jadi kalo emang bukan lagi growth spurt, biarin aja sampe dia lepas penyusuan sendiri. Kalau lepas sendiri biasanya tidurnya juga lebih lama.

gambar dari sini

Wednesday, June 24, 2015

Kenapa ASI Untuk Anak Kedua Lebih Gampang: Part I

Banyak calon mama dua anak (dan mama satu anak juga) yang nanya sama gue, apa ngASI anak kedua akan sesusah pas anak pertama yang (kebanyakan) full of struggling. Jawaban gue: Enggak. Justru yang gue lihat, banyak mama yang akhirnya bisa 'menebus' apa yang mereka fail to achieve (kalo pake ukuran achievement, sih, ya) pas anak pertama.

Misal, nih, ade gue sendiri. Anak pertama lumayan sukses ngASI sampe 23 bulan. Tapi nyusuin langsungnya pakai nipple shield. There's nothing wrong with nipple shield if it helps overcoming breastfeeding problems alias nyelesaiin masalah tanpa menambah masalah. Kebetulan di ade gue begitu. Problem dia adalah pain tolerance yang rendah, jadi nggak tahan sakitnya di awal-awal nyusuin itu, lho. Nipple shield bantu untuk ngurangin sakit itu.


gambar dari sini


Friday, June 19, 2015

Lulus Toilet Training Ke-4

Ada nggak, sih, bedanya toilet training (TT) alias tatur kalo orang Jawa bilang, pada anak pertama dan keempat? Jelas ada, dong. Kayak yang ditulis Amel di blognya inimakin banyak anak bawaannya emang makin santai. Sesantai apa, itu tergantung lingkungan baik di rumah maupun pergaulan si Ibu *tsah.

Kalau di rumah nenek-kakeknya mulai ribut kapan dilatih plus wejangan kalo jaman dulu dari bayi udah mulai ditatur tiap dua jam sekali ke kamar mandi, ya, jadi terintimidasi. Di pergaulan, kalo gaulnya sama sesama ibu-ibu beranak satu yang berdedikasi dan kompetitip, dimana bayi-bayinya udah dipipisin sejak usia 3 bulan dan sukses di 9 bulan sedangkan bayi kita 11 bulan masih enjoy dan lempeng pempesnya full pup, ya terintimidasi juga ..hahaha.


gambar dari sini
*nggak, sih, nggak begitu juga cara gue TT-in :D

Monday, June 8, 2015

Memilih Stroller Pertama

Sekarang mau beli stroller aja buanyak macemnya, fiturnya, plus harganya, ya *nyengir*. Tapi mestinya ada, kan, yang bisa jadi dasar utama memilih stroller?

Pertanyaan awal, sesuai prinsip ekonomi: 
1. Perlu nggak?
2. Ada mobil nggak?

Kenapa dua ini jadi pertimbangan awal? Karena punya bayi bukan berarti harus punya stroller. Buat gue lebih mending investasi di baby carrier yang bagus dan nyaman. Karena bayi yang lebih banyak nempel dengan salah satu orangtuanya otomatis bondingnya lebih bagus dan biasanya lebih jarang rewel. Bayi juga perlu feeling secure, dan salah satunya medianya adalah kedekatan dengan orangtua secara fisik. Carrier juga jauh lebih ringkas dan enteng ketimbang stroller.

Salah satu dari sedikit alasan kepakenya stroller pas anak pertama itu buat jemur bayi. Itu juga paling lama cuma sampai umur dua-tiga bulan aja. Bayi pertama, berarti orangtua belum ada bawaan momongan lain. Jadi masih bisa, lah, ya gantian gendong. Justru gue lihat trickynya malah di diaper bag. Kebanyakan pasangan yang bawa bayi satu bawaannya jauh lebih banyak ketimbang yang bawa anak tiga :D. Over-filled diaperbag akan menambah beban yang harusnya beban itu bisa di-replace sama si bayi. Nanti nyusul, ya, tulisan tentang diaper bag yang ringkas.

Faktor punya mobil juga penting buat gue. Karena kalau nggak ada mobil, praktis stroller akan lebih banyak nganggur di rumah. Nggak bisa dibawa-bawa, 'kan, jadinya. Wong ada stroller tapi model yang bulky aja udah males, kok, bawanya biar kata pakai mobil sekalipun. Apalagi kalau belum punya mobil, mending dipending dulu beli strollernya.

Di sisi lain, carrier tetap berguna meski udah punya mobil. Pas belum punya carseat dan masih gendong bayi di kursi depan (sebaiknya jangan ditiru, ya, meski aturan di Indonesia belum ketat soal ini), bayi terikat ke gue pake carrier. Jadi seenggaknya kalau terjadi tumbukan keras, bayi nggak gampang terlempar.

Setelah dua pertanyaan awal terjawab dengan "Ya", baru, deh, kita masuk ke bagian berikutnya.

Dari pengalaman pilah-pilih stroller menjelang lahirnya anak ke-3, gue dapet poin-poin dibawah ini:

  1. Pilih yang ringkas, bisa dilipat model payung/memanjang. 
    Model yang lipatannya bulky harus dipastikan dulu muatnya di bagasi mobil kita. Yang lipatannya memanjang/payung biasanya lebih fleksibel penyimpanan atau menaruhnya di mobil. Pengalaman saya, meski space bagasi kurang lebar untuk panjang lipatan stroller, tapi masih bisa ditaruh berdiri. Nggak kepentok atap dan sisa space kursi masih lumayan lebar.

    Waktu mau beli, minta aja sama penjaga toko untuk dicobakan di mobil kita. Tips yang sama berlaku waktu mau beli carseat.
  2. Bisa direclining sampai datar.

    Beberapa stroller klaim bisa dipakai sedari bayi 0 bulan, tapi ternyata waktu dicoba sandarannya nggak bisa datar sempurna. Padahal bayi perlu sandaran yang datar, jangan ada tekukan. Tekukan biasanya membuat bayi agak merosot, yang harusnya posisinya nekuk kayak semi duduk, karena melorot malah nekuknya di daerah punggung. Gak bagus juga kan buat anatominya yang masih berkembang.
  3. Perhatikan keamanan strap. 5 way/point strap lebih bagus.

    Stroller (biasanya yang murah) cuma pakai 3 way/point strap. Ini lebih nggak aman ketimbang 5 way strap karena nggak ngiket bagian dada/torso anak/bayi. Jadi ada resiko anak terhentak bebas ke depan soalnya iketannya cuma di daerah pinggang. Ini ilustrasi perbedaan 3 way/point strap sama 5 way/point strap, ya.

    gambar diambil dari sini dan sini
  4. Pilih yang bisa dibuka-tutup dengan satu tangan.

    Punya bayi berarti akan sering ada momen dimana bayi menguasai satu tangan dan kita tinggal punya tangak sebelah buat ngapa-ngapain. Stroller yang bisa dibuka-tutup cukup dengan sebelah tangan akan sangat membantu mempermudah urusan :D.
  5. Jangan lupa cek rem roda, susah/gampang dikunci/buka.

    Pastikan kunci roda juga gampang dibuka-tutup, ya. Biasanya cukup dengan kaki, kok. Nggak perlu sampe harus pake tangan dan nunduk-nunduk.

  6. Makin enteng makin bagus, tapi jangan abaikan kualitas dan kekuatan. 
    Makin enteng stroller berarti makin mobile buat dibawa-bawa. Tapi untuk stroller level bayi yang biasanya fullbody nggak cuma sekedar buggy simpel, enteng (dan murah) bisa berarti kompensasi di bahan atau sendi. Perhatikan sendi stroller. Digoyang oglek nggak. Kalau pas kosong stroller sudah terasa oglek, dipastikan pas diisi bayi/anak akan makin oglek dan ringkih.

    Untuk stroller kelas premium hal ini mungkin nggak terjadi karena harga yang mahal itu kompensasi dari bahan logam ringan tapi kuat yang memang mahal.
  7. Pastikan stroller tipe dan model tersebut bukan barang yang di-recall di luar negeri.

    G
    oogling dahulu tahun pembuatan, tipe dan model stroller sebelum memutuskan untuk membeli. Beberapa model stroller yang direcall punya cacat produksi yang kadang bisa berbahaya untuk keselamatan bayi (ada yang partnya bisa membuat jari anak terjepit sampai patah, dsb).
  8. Cari review baik online maupun bertanya ke teman/saudara.

    Selain googling mengenai recalling bisa juga sekalian cari review atau testimoni dari pengguna model tersebut.
Moga-moga poin-poinnya cukup membantu memilih, ya. Ada yang mau nambahin poinnya? Boleh lho komen2.

Selamat berbelanja stroller!