Wednesday, April 29, 2015

Kepo sama anak? Jangan salah nanya!

Saat ramai ada kasus yang melibatkan anak-anak, entah itu pelecehan atau bully, gue jadi ekstra komunikatif sama anak. Lebih tepatnya ekstra kepo, sih.. hehe. Sambil memantau perkembangan kasus, gue contek poin-poin dari kasus itu, gue tanyain ke bocah.

Misalnya, nih, saat ramai kasus pelecehan, gue tanya:
  • gimana cara guru menangani anak TK atau kelas 1-2 SD kalau mau pipis atau BAB dan belum bisa cebok sendiri?
  • siapa yang nganter anak ke kamar mandi? Guru atau ada personel sekolah yang lain?
  • teman anak ada yang belum bisa cebok sendiri, nggak?
  • pintu kamar mandi bisa dikunci/kuncinya rusak, nggak?
Atau pas rame kasus bully, pertanyaan gue:
  • pernah dinakali teman/kakak kelas/adik kelas, nggak, baik fisik ato verbal?
  • pernah liat ada yang dinakali di sekolah?
  • kalo pernah dinakali, sama satu anak atau sekelompok?
  • si bully, nakalnya sama satu anak saja (single target) atau banyak?
Yang jadi PR, saat kita bertanya-tanya pada anak, jawabannya kadang cuma ya, nggak, lupa, nggak tahu, dan semacamnya...ppfftt. Otomatis pertanyaan kita jadi lebih detil, dengan harapan memudahkan anak menjawab (baca: kita mendapatkan jawaban). Misalnya seperti percakapan berikut:


Nah, menurut Kamala London, PhD, psikolog forensik dari Universitas Toledo, Ohio yang menjadi narasumber diskusi tentang False Memory Pada Anak, ternyata cara bertanya yang menjurus atau mengarahkan seperti ini (suggestive question) nggak boleh.

Dalam proses wawancara investigasi forensik, cara ini bisa membuat kesaksian anak jadi meleset. Yang sebetulnya 'nggak', bisa menjadi 'ya' karena anak terdesak oleh investigator. Apalagi saat investigator menekankan bahwa anak yang jawabannya 'salah' (baca: tidak memberikan jawaban sesuai keinginan penanya) terus dilabel ingatannya tidak sebaik temannya.

Bahkan pada kondisi tertentu ketika anak harus menghadapi berbagai sesi wawancara terpisah dan berturut-turut, pada wawancara kesekian anak bisa memberi kesaksian detil peristiwa yang sebenarnya tidak pernah dia alami.

Dalam kondisi tersebut, kelak ketika anak menarik atau membantah kesaksiannya, penyidik akan menganggap anak takut sehingga bantahan yang belakangan justru diabaikan. Akibatnya kesaksian yang salah bisa menyeret tersangka yang salah pula.

Mengapa anak bisa mengubah cerita?

Di usia sekitar empat tahun, anak sudah bisa memberikan laporan kejadian dengan tepat menggunakan kata-katanya sendiri, asal wawancara dilakukan dengan tepat pula. Nggak masalah meski kejadiannya sudah lewat beberapa waktu ataupun barusan aja, early interviews biasanya yang paling sesuai dengan kenyataan karena belum terdistorsi. 

Yang bisa menjadi distorsi diantaranya:
  • wawancara yang dilakukan berulang-ulang, termasuk oleh orangtua (akan dibahas setelah ini).
  • paparan cerita atau pembicaraan orang-orang terdekat tentang kejadian terkait, baik dalam dialog dengan anak maupun anak berada di posisi pendengar pasif. 
  • berita di media atau sosial media yang dapat diakses anak.
Dari percobaan iseng yang dilakukan Kamala pada anaknya saat berusia empat tahun, pada dasarnya anak-anak punya kecenderungan untuk memberi jawaban, bahkan atas sesuatu yang dia tidak tahu. Ketika ditanya kira-kira apa warna awan di kota X yang si anak tidak pernah kesana, walau ragu anak menjawab,"Maybe orange?" ketimbang "I don't know" atau "I'm not sure". Kecenderungan inilah salah satu yang membuat anak akan selalu memberi jawaban pada wawancara, seberapapun absurdnya jawaban itu.

Bayangkan apabila sesi wawancaranya seperti ini:


Lalu dalam kasus seperti sodomi si penanya menyelipkan detil seperti:
  • apakah anusmu disentuh?
  • apakah ada yang memasukkan sesuatu ke anusmu?
  • apakah si x (tersangka) menunjukkan penisnya padamu?
dst.

Istilah-istilah yang tadinya dimaksudkan sebagai detil wawancara, karena disebut berulang dalam berbagai wawancara terpisah, akan membentuk profil kejadian detil dan lengkap di otak anak, bahkan ketika si anak sama sekali nggak pernah mengalami kejadian tersebut dan tadinya sama sekali nggak tahu sodomi itu apa.

Jangankan pertanyaan yang mendetil, mengubah sedikit kata yang dipakai dalam wawancara sudah mengubah persepsi penjawab, baik anak maupun dewasa, seperti gambar berikut ini.




Jadi bagaimana harusnya kita menggali informasi dari anak?

Poin terpenting adalah, biarkan anak bercerita memakai bahasanya sendiri. Makin sedikit kita intervensi ceritanya, makin akurat walau kadang secara kronologis masih terbalik-balik pada anak usia TK.

Untuk anak yang lebih besar, di sekitar usia preteen/teen, memang mulai sulit mengajak ngobrol apalagi seringnya saat mereka ingin cerita seru kitanya sibuk dan pas kita sudah nggak sibuk, mereka juga sudah asyik tenggelam baca buku atau kegiatan lain. 

Saran dari Kamala yang juga punya anak remaja usia 11 tahun, tetap sama, sih:
  • Hindari pertanyaan sugestif.
  • Hindari pertanyaan yang cukup dijawab ya atau tidak.
  • Gunakan open end questions yang membuat anak harus menjawab lebih panjang ketimbang ya dan tidak saja.
  • Detilkan pertanyaan. Pakai kalimat,"Tadi waktu istirahat/di kelas/pelajaran olahraga ada cerita apa?" ketimbang,"Tadi di sekolah ngapain?"
Yang perlu kita ingat juga, jangan mudah panik mendengar cerita atau istilah anak. Biasakan mendengar dulu sebelum komentar. Istilah yang digunakan anak, belum tentu sama artinya dengan persepsi kita. Kadang kita suka keburu parno saat dengar cerita anak. Terus jadi heboh nanya macam-macam, lupa, deh, kalau nggak boleh suggestive questioning..hehehe.

Kepoin anak-anak itu penting, supaya kita selalu dapat update apa yang terjadi sehari-hari di sekolah atau di luar rumah. Tapi jangan salah bertanya, ya. Salah-salah malah bikin anak malas menjawab pertanyaan kita lain kali.


*sumber gambar: makalah Kamala London, PhD
*edited version published at http://mommiesdaily.com/2015/04/01/takut-pelecehan-atau-bullying-terjadi-pada-anak-anda-ini-caranya-bertanya/

No comments: